Melihat Pancasila dari sudut pandang agama dan politik.


Volkstraad sekarang Gedung Pancasila.

Ramadhan kali ini,meski terkesan damai tetapi sebetulnya menyimpan (potensi konflik) hiruk pikuk masalah politik yang tentu saja dampaknya nanti tidak membuat rasa nyaman di hati semua orang.Mungkin kebanyakan orang (termasuk saya pribadi yang sebetulnya paranoit dengan ranah yang satu ini) bersikap tidak mau perduli,tetapi bagaimanapun ranah politik menjadi sangat menentukan bagi arti kedamaian untuk kehidupan orang banyak,termasuk dalam memaknai bulan suci Ramadhan ini.

Seperti di ketahui,menjelang Ramadhan tahun ini.Densus 88 telah menunjukan prestasi kerjanya yang gemilang dengan menangkap seorang petinggi pondok pesantren yang diduga terlibat dalam rangkaian teror di negeri ini.Tindakan ini menunjukan bahwa negara sedang tidak bermain-main dengan isu yang menyesakkan dada semua orang ini.Sebagai seorang warga masyarakat,yang sejak awal bangga dan mendukung kerja Densus 88.Tetapi dalam hal ini,dalam kasus penangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir,menjadi prihatin,hendaknya semua pihak (termasuk media massa) harus bisa menahan diri,dan menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin,berfikir jernih serta bersikap arif dan bijaksana,agar persoalan rumit ini bisa diselesaikan dengan baik dan adil,dan yang terpenting ‘akar’masalah ini harus bisa diselesaikan dengan baik,tidak bisa terus dibiarkan berlarut-larut,karena ini bisa terus menjadi ganjalan bagi bangsa ini kedepan.

Sependapat dengan statement pemerintah,bahwa kasus ini sudah masuk ke ranah hukum dan jangan di bawah ke ranah politik.Meski melihat perkembangan kasusnya,terlihat bahwa ini merupakan rangkaian aneka permasalahan yang berupa gunung es,yang terjadi di negeri ini.Sejak jaman orde lama dan di pasung saat orde baru,dan jelas ini merupakan masalah negara.Dan hanya pendekatan politik yang bisa mengurai dan melakukan pendekatan terhadap persoalan pelik ini.Ranah hukum dan Densus 88 hanya merupakan pelaksana teknis.Untuk menyelesaikan persoalan ini sepertinya harus mengungkap isi pikiran Ustadz Abu Bakar Baasyir.Dan ini memerlukan berbagai pendekatan termasuk pendekatan politik dan pendekatan agama,mengingat ustadz Abu Bakar Baasyir merupakan tokoh pesantren yang mengeluarkan ribuan santri.Dan tidak bisa di sangkal bahwa para santri ini juga adalah anak-anak bangsa,yang dilindungi hak-haknya dalam alam demokrasi ini.Bisa saja ustadz Abu Bakar Baasyir dijatuhi hukuman seberat-beratnya,tetapi akar persoalannya tidak akan selesai sampai disini,bisa jadi kemudian akan muncul Baasyir-baasyir baru.Karena ini merupakan masalah keyakinan,maka akar keyakinan ini yang mestinya diluruskan.

Seperti yang terungkap dalam penelusuran berbagai media,ustadz Abu Bakar Baasyir merupakan salah seorang tokoh yang menentang idiologi Pancasila sebagai dasar negara.
Dan lagi-lagi Pancasila di uji kehandalannya dalam era demokrasi yang berkembang saat ini.

Mungkin perlu digaris bawahi bahwa sebetulnya Pancasila di gali dari akar budaya dan kultur nenek moyang bangsa kita sendiri,melalui berbagai pendekatan,termasuk pendekatan politik dan pendekatan agama yang dilakukan oleh para pendiri bangsa kita dengan jalan musyawarah dan mufakat.

Seperti kita ketahui bersama di antara para penggagas,penggali dan perumus Pancasila adalah tokoh politik yang sangat populer di jamannya yaitu Ir Sukarno.Kita semua sepakat bahwa Bung Karno di samping dikenal piawai berpolitik (politisi negarawan),beliau juga adalah seorang yang religius (pemeluk agama yang taat).Saya pikir siapapun yang pernah membaca biografi Bung Karno akan mengiyakan ini.Tetapi dalam kaitannya dengan persoalan ini,kalau masih kurang percaya dengan kepiawaian Bung Karno dalam hal agama (dalam hal ini Islam),coba kita lihat kepiawaian salah seorang tokoh lain dalam hal agama,beliau adalah Kyai Haji Wachid Hasyim.Apakah ada di antara kita yang meragukan keshalehan Kyai yang satu ini? Kalau ada yang meragukan Pancasila,itu artinya masih meragukan keshalehan Kyai Haji Wachid Hasyim,dan ini berarti merupakan penolakan status Kyai (tokoh santri) yang di sandang H.Wachid Hasyim dan lebih jauh ini berarti ketidak patuhan terhadap aturan agamanya sendiri.Naudzu billahhiminzalik..

Kita semua mengetahui bahwa Islam adalah agama yang humanis dan mengedepankan ‘akal’ dalam hal ini proses berpikir.Dan Allah mengisyaratkan ‘penekanan berpikir ini’ dalam Arqur’an justru pada ayat yang pertama sekali diturunkan.IQRA = bacalah,iqra disini mengandung makna filosofi perintah membaca,belajar,trus berfikir,kemudian mengkaji,menganalisa dst.Dan Rasulullah dalam hadits beliau,menggambarkan bahwa proses belajar itu di mulai dari “buaian hingga liang lahat”.Maksudnya dalam pengertian yang lebih luas,bahwa Islam mengedepankan kerangka ‘berpikir’dalam berbagai aspek kehidupan,termasuk dalam merumuskan sebuah idiologi negara yang fundamental,serta sanggup mengakomodasi perkembangan zaman,seperti Pancasila ini.

Bertolak dari sudut pandang agama semestinya kita semua bangga akan Pancasila,sebab Pancasila merupakan maha karya para pendiri bangsa kita,yang pantas kita banggakan.Pancasila jelas-jelas merupakan jiwa Alqur’an dalam skala yang lebih kecil.Coba kita lihat ke 5 sila dalam Pancasila,apakah ada yang bertentangan dengan Alqur’an?

Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,meski merupakan perbaikan (pendekatan politik)terhadap protes dari beberapa tokoh non muslim (diantaranya Mr A.A.Maramis,tokoh yang serumpun dengan nenek buyut saya,Sumual=Samuel) :) Tetapi tetap saja pendekatan politis ini,menunjukan kapasitas politik Ir Sukarno dan Kyai Haji Wachid Hasyim yang memang sangat piawai.Coba lihat terminologinya ESA = Ahad = Satu,yang berarti menunjukan sesembahan yang Satu,Zat yang satu.Apakah ini bertentangan dengan Alqur’an?..

Trus kemudian Alhamdulillah,akhirnya Pancasila bisa diterima dengan baik oleh semua kalangan,termasuk tokoh pentolan DI/TII yang badung,yang akhirnya kemudian tokoh ini menyerah dan mengaku salah kepada teman seperjuangan beliau,dalam hal ini kepada Bung Karno.Tokoh DI/TII ini,berani saya bilang badung karena beliau serumpun dengan kakek buyut saya,jadi setidaknya saya memahami karakter beliau,beliau adalah Kahar Muzakkar :)

Singkatnya,sebetulnya akar persoalan (secara menyeluruh) Ustadz Abu Bakar Baasyir ini,bisa di selesaikan dengan bijak dan arif,dengan mengedepankan pendekatan Pancasila khususnya sila ke 2 (Kemanusiaan yang adil dan beradab) dan sila ke 5 (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) dari Pancasila itu sendiri.Dengan begini menjadi tidak ada alasan untuk menolak Pancasila sebagai dasar negara.Walahu’alam bisyawab..

Note:
Mohon maaf,saya sengaja mengedepankan perspektif Islam,karena Islam merupakan mayoritas di negeri ini,dan nyatanya penentang Pancasila terbanyak justru dari kalangan Islam,dan saya sebagai seorang Islam yang lahir dan bergaul didaerah minoritas muslim,setidaknya bisa memahami bagaimana rasanya menjadi minoritas di tengah mayoritas.Semoga negeri ini tetap aman dan damai bagi semua penduduknya.Amin.. ==>>

About these ads

Tag: , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Melihat Pancasila dari sudut pandang agama dan politik.”

  1. Jabon Says:

    ok ..saya menjadi banyak wawasan ni .. :)

    ——- :) kita saling berbagi inspirasi mas,piye kabarnya Kendal mas?..dulu sy pernah di Semarang..main tenis mejanya di Kendal :D

Komentar ditutup.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: