Dihimpit Kemiskinan, Anak lagi Sakit Eh malah jadi Pesakitan Pula.


tsunamiacehMengutip istilah KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym),bahwa “anak” bukan milik orang tua.Melainkan titipan Tuhan kepada orang tua yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Sebagai orang tua ketika mengetahui anaknya lagi sakit tentu saja dia akan merasa panik,lepas dari apapun status sosial orang tua ini,baik miskin atau kaya,tentunya si orang tua akan berusaha dengan cara apapun untuk menolong anaknya.

Namun nasib tragis menimpa Badriah (25),seorang buruh miskin yang menggatungkan hidupnya kepada orang lain (Perusahaan tempat dia menjual jasanya),ketika dia meminta hak cuti kerja tahunannya untuk menolong anak semata wayangnya yang lagi sakit keras.

Alih-alih izin cuti yang didapatkan malah amarah yang dia dapat dari pihak personalia pabrik tersebut. “Tidak itu saja, saya disuruh mengundurkan diri dengan 15 persen dari pesangon yang ada. Dan saya menolak, dan menyembah untuk tetap diberikan ijin cuti kerja, karena ingin membawa anak saya berobat, pak,” ujar Badriah dengan isak tangis saat dijumpai wartawan di rumahnya, Sabtu (22/11/2008) siang.Dikutip dari Detik.Com

Dituturkan Badriah, personalia tak mau memberikan ijin cuti dengan alasan dirinya dalam status pengawasan dan binaan kerja. Melihat pihak personalianya marah sambil memukul meja, Badriah panik dan kesal.

“Tidak itu saja, surat pernyataan yang sehari sebelumnya saya tanda tangani terkait
absensi kerja dibanting di atas meja depan saya. Saya menangis dan kesal, tanpa sadar saya sobek surat tersebut. Yang kemudian saya dilaporkan ke polisi dengan alasan telah melakukan pengrusakan terhadap surat itu,” ujar buruh yang sudah bekerja lebih dari sembilan tahun di pabrik kayu ini.

Tindakan Badriah yang spontanitas menyobek surat pernyataan itu,berbuah ancaman kurungan penjara bagi tsunamiaceh01Ibu miskin ini.Tragis memang nasib seorang “orang tua” miskin ini dalam usaha untuk memenuhi kewajibannya kepada anaknya,perlakuan tak manusiawi jusru menimpanya.Suatu “keadaan” yang membuatnya tidak bisa memilih.Disini rasa keadilan terasa dipermainkan.Apakah kita harus menunggu Sang Empunya Keadilan menunjukkan Keadilan-Nya?..Apakah Tsunami,kebakaran hutan,banjir,gempah,pemanasan global,resesi ekonomi,tenggelamnya kapal laut bahkan pesawat,kerusuhan,kelaparan,mutilasi,HIV/AIDS dll..masih belum cukup membuat kita sadar akan teguran Sang Empunya Keadilan?..atau apa itu semua masih kurang dahsyat?..

Kalau tidak salah ingat dulu Guru Ngaji saya pernah bilang,bahwa:”Sang Empunya Keadilan” itu,tidak gengsi kumpul bersama orang-orang miskin,apalagi dengan orang miskin yang tertindas.Wallahu’allam. Next to home page?..

Jakarta,22 November 2008.

Tag: , ,


%d blogger menyukai ini: