Kemelekatan Diri vs Kemerdekaan Diri.


fanatisme“Sebenarnya kita tidak terganggu oleh apa yang terjadi pada kita, namun kita terganggu oleh pemikiran tentang apa yang terjadi pada kita”

Ya begitulah yang terjadi. Setiap peristiwa adalah netral. Pemikiran kita terhadap peristiwa itulah yang mewarnai sikap dan perasaan kita.

Sebuah kenyataan : pemikiran dan perasaan bukanlah sebuah fakta dan mereka bukanlah diri kita yang sebenarnya. Oleh karena mereka bukan diri kita maka sebenarnya kita juga mudah melepaskannya. Kecenderungan untuk memegang dan melekat pada pemikiran yang membuat kita tidak bahagia ini juga tercermin dalam pemakaian bahasa. Ketika kita merasa sedih kita biasa mengatakan “Saya sedih” atau  ketika merasa  gembira kita mengatakan “Saya gembira”. Kita senantiasa memperkuat keyakinan tentang kemelekatan diri kita dengan pemikiran dan perasaan kita sendiri.

Bagaimana jika kita katakan”Saya merasa sedih” atau “Saya merasa gembira”?Bisakah Anda merasakan perbedaannya? Apakah kesimpulan Anda?

Demikian juga dengan perilaku anak-anak tercinta kita. Kita menanggapi perilaku mereka dengan latar belakang emosi yang kita miliki. Suatu waktu saat kita lagi gembira maka kita mentoleransi suatu perilaku namun di lain kesempatan di saat kita lagi jengkel maka perilaku yang sama yang ditunjukkan anak kita tadi bisa kita maknai dengan sangat negatif. Bahkan mungkin disertai dengan label negatif yang kita berikan pada sang anak tercinta.

Sudahkah kita meminta maaf atas kejadian-kejadian yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita namun secara tak sengaja kita tumpahkan pada buah hati tercinta kita?

Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi kita semua untuk senantiasa menjadi lebih bahagia dan menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anak kita.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,
Penulis artkel: Mr Ariesandi dan team sekolahorangtua.com atau mau kembali kehalaman depan? (klik).

Jakarta,21 Desember 2008.

Tag: , , ,


%d blogger menyukai ini: