Barudak Tea belajar ikhlas dari kang Bener dan kang Salah.


Dalam pelayarannya kali ini, si Barudak ternyata tergiur juga dengan perjalanan darat. Dan dalam perjalanan daratnya barudak terkagum-kagum dengan keindahan alam disekitarnya. “Hmm..alam yang indah” pikir barudak.

Di alam yang masih terbilang segar ini, barudak sesekali melewati pertambangan emas miliknya Uncle kribo. “Kaya kali Uncle kribo ini ” pikir Barudak, “usahanya ada dimana-mana..padahal dia sendiri gak pernah lihat usahanya ini”. “Udah-udah jangan berpikiran jorok eh..jangan sirik, katanya mau belajar ikhlas” sangga kang Bener, yang selalu setia menemani Barudak. “iya..iyah” timpal Barudak seraya menggaruk-garuk kepalanya yang gak gatal, dia teringat berita tadi pagi bahwa ada cerita heboh tentang gurita yang main didaratan..”gurita yang aneh” celetuk kang Bener lagi.

Beberapa saat kemudian Barudak kembali melewati pertambangan emas liar milik rakyat.  “Amboi…berat kali kerjanya para penambang ini, sudah gitu hasilnya gak seberapa, padahal konon tanah ini milik nenek moyangnya” kali ini hati Barudak ikut memberontak. “Iyah tuh..lihat hasil emasnya dikeruk oleh si uncle” kang Salah ikut manas-manasin si Barudak. “udah..udah katanya mau belajar ikhlas”  serga kang Bener. “hmm..emang lo siapa barudak?” Barudak bergumam sambil menarik nafas panjang.

Tiba disatu kampung, Barudak kesenangan.. “makan dulu ahh..” pikir Barudak, “Tapi eits..minumin motor dulu, biar motornya gak ngambek hehe” setelah motornya minum full tank, Barudak membayarnya..tapi sesaat kemudian Barudak tertegun, ternyata duit didompet setelah dipotong minuman motornya, tinggal cukup bayar tiket dia dan motornya di kapal nanti, di penyeberangan 75 kilo meter lagi. Barudak berpikir keras.. “listriknya mati bro, mana ada atm yang bisa lo bongkar” celetuk kang Salah.  “Istigfhar..istigfhar, puasa dululah..katanya mau belajar ikhlas” kang Bener mengingatkan.

Setelah tiba di penyeberangan, dengan lemas Barudak melepas ranselnya. Barudak melongok sana-sini “sepi deh..lampu mati lagi nih” pikir Barudak. “hmm..hand phone lowbatt,mau ngenet battery note booknya modar, nonton tv..tv siapa yang bisa ditonton?!..sial deh..” Barudak membatin sambil menunggu kapal di penyeberangan. “Sabar..sabar, katanya mau belajar ikhlas” bisik kang Bener. “kalo tu sabar punya bentuk,mau gue makan nih..buat ganjal perut”  Barudak senyum-senyum menghibur diri.Kang Salah disampingnya ikutan ketawa “hik..hik..”

Sambil duduk diruang tunggu yang ac-nya ikutan mati,tiba-tiba mata Barudak beradu pandang dengan perempuan cantik berjilbab, anehnya perempuan itu melempar senyum kearahnya, sesaat Barudak tertegun, sembari memperhatikan 2 anak kecil yang bermain dekat perempuan itu.”Samperin aja” bisik kang Salah. “Balas aja senyumnya..senyum itu kan sedekah, lapi pula siapa tau dianya memang mengenalimu”..kang Bener ikutan berbisik. Barudak membalas senyum perempuan itu..”kayaknya gue gak kenal deh..lagi pula sepertinya dia  istri orang” pikir Barudak sambil mengalihkan pandangannya secara wajar kearah lain.

Saat Barudak lagi bengong dengan pikirannya sendiri,tiba-tiba suara perempuan tadi mengagetkannya “halo mas lagi sendirian yah”. “o’ow perempuan cantik itu mendekat” bisik kang salah. “iya..iyah mbak eh..bu” Barudak tergagap. “Ehmm..kita pernah ketemu dimana yah?” Barudak pura-pura bertanya untuk menutupi kegugupannya. “Beberapa hari lalu,mas kan?..yang kehujanan trus mampir berteduh di rumah saya?”. “oh maaf bu,beberapa hari lalu ibu gak pake jilbab soalnya” Barudak menjawab dengan ramah sambil minta maaf. “Benar kan?..dia ama suaminya yang memberimu tumpangan kemarin?..bahkan motormu ikutan nangkring diteras rumahnya, sudah gitu dibuatin kopi lagi,apa dia gak baik coba” kang Bener berceramah panjang lebar.

“Ibu kok sendirian..suaminya gak ikut yah?” tanya Barudak,”iyah nih sendirian..lagi pula nenteng barang banyak lagi”..jawab perempuan itu,mengisyaratkan kalau dia butuh pertolongan.
“ehm..jadi porter dadakan nih” seloroh kang Salah.”Udah..udah bantuin aja..lagi pula kapan lagi membalas budi baiknya,katanya mau belajar ikhlas”..kang Bener mengingatkan.

“Ya udah bu, saya bantuin ngangkat barangnya..tuh kapalnya sudah datang” Barudak menawarkan bantuan, yang disambut senyum manis perempuan itu. “Duh..beratnya” pikir Barudak saat mengangkat barang perempuan itu.”Kasian deh lo” celetuk kang Salah. “Udah.. katanya mau belajar ikhlas” kang Bener mengingatkan. “Ikhlas..kata ini sering saya dengar tapi hari ini, saya benar-benar mengerti esensi ikhlas , ikhlas dalam arti memberi maupun menerima, dan ini membuat ku melangkah tanpa beban” pikir Barudak, tentang arti ikhlas.  “Au ah gelap” celetuk kang Salah.

Tag: , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Barudak Tea belajar ikhlas dari kang Bener dan kang Salah.”

  1. diajeng Says:

    salam..🙂 berjalan menyusuri tepian kebun…nyampai juga disini. apa khabar sahabat ? semoga sehat selalu ya🙂 salam kenal dr diajeng🙂

    ——
    senang berkebun jg rupanya..🙂 selamat datang di kebun sederhana sy,semoga ada yang bisa dipetik 🙂 kabar baik and sehat selalu sahabat. Senang sudah berkunjung.

  2. diajeng Says:

    pemandangannya indah sekali….jd ingin pergi kesana juga🙂

    ———
    kalo bisa jangan Diajeng!..(serius) disini suka mati lampu..sepi sekali,hanya ditemani jangkrik..🙂😦

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: