Celoteh indah tentang Jakarta.


Gambarnya Indah.

Judul asli artikel itu,menembus awan kota Jakarta.Entah apa yang ada dipikiran Indah sebagai penulisnya,setelah ditambahkan gambar tangan,yang menerobos (gedung) kuat mencuat keatas.Tangan ini memberi gambaran,kemarahan,ketidak puasan (geregetan kalau kata Sherina) akan kondisi Jakarta yang sesungguhnya.

Indah,menceritakan perjalanannya ke Jakarta,sepintas dia terlihat senang dan bahagia.Tetapi sebetulnya hatinya berbicara lain.Perjalanannya menggunakan kereta,menunjukan perjalanan waktu,ketika kereta sudah bergerak maju,akan sulit dihentikan.Karena akan sangat berpengaruh bagi keselamatan para pengguna kereta itu sendiri,perjalanan waktu bisa diibaratkan dengan perjalan kereta ini.

Penjaja makanan,tukang ojek,supir bajaj,merupakan gambaran sesungguhnya tentang ketimpangan sosial ekonomi di Jakarta.Jakarta merupakan tempat berkumpulnya para kapitalis dari seluru pelosok tanah air,hingga perputaran ekonomi di Jakarta terlihat sangat menggiurkan,tidak heran kalau mall di Jakarta tumbuh bak jamur.Kondisi ini memancing gelombang urbanisasi ke Jakarta secara berangsur dan sistematis.Tentu saja ini menjadi beban bagi Jakarta,nyatanya orang kaya semakin kaya di Jakarta dan tentunya orang miskin semakin miskin.

Ironisnya perbandingan kelas menengah atas lebih banyak,bahkan konglomerasi semakin menggurita,sementara kaum papah yang jumlahnya jauh lebih banyak semakin tergilas.Keyataan ini terlihat dari semrawutnya Jakarta,mulai dari jalan rayanya,sungai-sungainya,bangunan-bangunannya yang mulai dari kardus,di atas bantalan rel kereta,dikolong jembatan sampai gedung pencakar langit ada di Jakarta.

Kalau dibandingkan antara gedung-gedung mega dan gedung-gedung kardus,pasti akan dengan mudah orang akan bilang bahwa gedung kardus jauh lebih banyak,meski sepintas terlihat gedung-gedung mentereng yang mendominasi.Kenyataan ini menggambarkan kondisi sosial ekonomi di Jakarta yang sesungguhnya.

Dengan kenyataan ini,maka tidak heran kalau anarkisme,dan berbagai kejahatan muncul,karena Jakarta tanpa di sadari telah menjadi tidak nyaman bagi penduduknya.Yang kuat semakin kuat dan yang lemah semakin lemah,parahnya keadilan selalu berpihak kepada yang kuat (berduit/berkuasa).Contoh nyata yang terlihat saat ini,adalah masalah Kafe Buddha Bar yang sampai saat ini belum didapatkan solusinya,padahal pemeluk agama Buddha sudah sangat merintih meminta keadilan.

Semua masalah ini akan menjadi (bumerang) semacam bom waktu yang lama atau cepat akan membuat Jakarta semakin kesulitan dalam membenahi dirinya sendiri.Dan saat ini sangat sulit mencari atau melihat langit biru di Jakarta seperti yang ada di gambar Indah dalam artikelnya.Cerita Indah yang menggambarkan kondisi Jakarta secara apa adanya,merupakan teguran halus bagi penduduk Jakarta.Wallahu’alam.. ==>>

Tag: , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Celoteh indah tentang Jakarta.”

  1. indahnyahidupku Says:

    ih waww… senangnya ada nama indah disebut di atas.. jadi malu..😳 sekaligus senang.. tulisan ini melengkapi tulisan indah…. dengan paradigma tersendiri.. dengan tatanan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti…

    nice share…

    semoga jakarta bisa menjadi benar benar indah… ^_^
    —-
    waow ada Indah🙂 Indah telah memberi sumbangan inspirasi bagi penduduk Jakarta,dari sudut pandang blogger.Sekedar melengkapi penelusuran teman2 wartawan🙂

    Perlu keterlibatan semua pihak untuk membenahi Jakarta,termasuk melibatkan semua propinsi di tanah air,sebagai mitra.Insya Allah,kelak Jakarta menjadi indah dan nyaman bagi semua orang,termasuk Indah🙂

  2. 'Ne Says:

    Ironis memang.. dua sisi kehidupan yang saling bertolak belakang hidup berdampingan, semakin jelas gap antara si kaya dan si miskin di Jakarta hal itu terlihat jelas. mungkin itulah kenapa Jakarta di juluki lebih kejam dari ibu tiri ya..

    ——🙂 baru tahu kalo ibu tiri lebih kejam dari Jakarta..ups kebalik ya

    iya fenomena kehidupan di Jakarta ini jadi sangat memprihatinkan,sebetulnya ini gambaran Indonesia secara keseluruhan.Kalo sempat ke daerah2,sebetulnya ‘gap’ ini sama saja,cuman di Jakarta lebih kelihatan karena Jkt penduduknya lebih padat,lagi pula pengatur kebijakan kan di Jkt.Mungkin benar system harus dirubah,dan kita perlu pemimpin yang berjiwa entrepreur dan ‘jujur,berani dan tegas’ (kata pak Pong Harjatmo)🙂

    – Jujur,jujur kepada diri sendiri bahwa menjadi pemimpin di negeri ini bukan persoalan mudah,jujur bahwa menjadi pemimpin adalah hanya sebagai pengemban amanah,amanah dari Allah S.W.T dan Rakyat Indonesia,jujur bahwa negeri ini bukan milik pribadi atau golongan,jujur bahwa prosentase rakyat yang menjerit jauh lebih besar ketimbang rakyat yang bahagia,artinya cita-cita para proklamator untuk menjadikan negeri ini ‘adil dan makmur’ bagi seluruh penduduknya,masih jauh dari harapan.Melihat kenyataan politik saat ini,kemungkinan kita sebagai rakyat jangan terlalu banyak berharap.Keliatannya masih berputar-putar,disekitar kepentingan golongan(sempit),ketimbang kepentingan rakyat banyak.

    – Berani,berani mengambil resiko yang lebih besar untuk tujuan jangka pendek dan jangka panjang,dan semata untuk kepentingan bangsa dan negara.Kalau perlu berani melupakan diri sendiri dalam artian, idealnya para pemimpin berani menjadi ‘pelayan’ rakyat,bukan sebaliknya.

    – Tegas,tegas berpihak pada kebenaran,tegas mengambil sikap baik dalam perkataan maupun tindakan,tegas menunjukan kesesuaian (sikap) antara perkataan dan tindakan.Agar arah politiknya terukur.

    Dan,ikhlas bahwa jabatan hanya amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan.Ikhlas bahwa jabatan hanya dijadikan (sarana/wadah) untuk ladang amal,dalam kaitannya bahwa kehidupan didunia ini hanya ibarat dalam perjalanan menuju kekehidupan berikutnya.Wah..mohon maaf,jadi pengin ngetik deh jadinya🙂

  3. Asop Says:

    Tunggu… judul di atas itu “Celoteh” apa “Celote”??❓
    —-
    apa bukan sama aja yah?🙂 *sibuk buka kamus nih*

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: