Penaklukan Tanpa Tumpahan Darah (Soft Power).


Labaik Allahumma Labaik.

Tahun 628 M tepatnya tahun ke-8 hijrahnya Rasulullah ke Madina.Kekuatan Umat Muslim di bawah pimpinan Rasulullah di Madina sudah berkembang sangat kuat,hal ini sangat menghawatirkan bangsa Quraisy di Mekkah,yang dengan slogan propaganda mereka,mangatakan bahwa “Rasulullah tidak bisa kembali ke Mekkah untuk selama-lamanya”.

Dan pada kisaran tahun ini pula,Rasulullah mendapat perintah (wahyu) Allah,dalam surat Al-Fath 27: “Sungguh Allah akan memenuhi mimpi rasul-Nya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjid al-Haram insya Allah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (merampungkan umrah) dengan tidak merasa takut. Dia mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia menjadikan selain itu kemenangan yang dekat”

Rasulullah sangat gembira dengan turunnya wahyu ini,sebab ini berarti Rasulullah dan pengikutnya bisa menunaikan ibadah haji,bisa kembali ke Mekkah tanah kelahiran beliau dan ini berarti kemenangan bagi umat Islam.Lebih jauh ini berarti penaklukan Mekkah yang waktu itu berada dalam kekuasaan bangsa Quraisy yang sangat memusuhi Rasulullah.

Rasulullah langsung mengumumkan berita gembira ini kepada seluruh kaum Muslim di Madina kala itu,dan di sambut dengan sangat gembira oleh para pengikutnya.Dengan turunnya berita gembira ini,membuat Rasulullah sangat yakin dengan kemenangan yang telah di janjikan Allah.Hingga beliau memerintahkan umatnya,agar dalam perjalanan ibadah haji ini dilakukan dengan “pedang dalam sarung” maksudnya tanpa pertumpahan darah atau peperangan.Dalam ribuan rombongan kaum Muslimin,Rasulullah membawa serta ratusan hewan untuk kurban.

Namun perjalanan ini,mendapat tantangan sengit dari bangsa Quraisy di Mekkah.Penguasa bangsa Quraisy,tidak menginginkan Rasulullah dan pengikutnya kembali ke Mekkah,dari beberapa orang pengintai yang beliau utus untuk mempelajari situasi Mekkah,membuat beliau sadar bahwa kedatangan beliau akan mendapat penolakan.

Hingga di suatu daerah yang bernama Hudaibiyah,beliau terpaksa menghentikan rombongan dan meminta rombongan membangun tenda-tenda di daerah itu,sambil membangun diplomasi dengan pihak Quraisy,sebab bagaimanapun perjalanan haji ini tidak boleh batal.Tetapi harus dilakukan dalam situasi DAMAI.

Dalam kesempatan itu Rasulullah meminta Umar Bin Khattab ra,untuk menemui para penguasa Quraisy,Dengan pertimbangan Umar Bin Khattab adalah bangsawan Quraisy yang disegani,yang kemungkinan besar akan didengar oleh bagsa Quraisy.Dan Umar bin Khattab mengatakan bahwa beliau akan patuh akan perintah Rasulullah,tetapi beliau mengemukakan pendapatnya,bahwa kemungkinan besar beliau tidak akan didengar bahkan bisa jadi akan dibunuh oleh bangsa Quraisy,mengingat sudah tidak ada seorang pun keluarga atau teman Umar Bin Khattab yang berada di Mekkah,semuanya sudah di bunuh atau di usir dari Mekkah.Ummar bin Khattab mengusulkan kalau Usman bin Affan ra lebih tepat,sebab selain dari kalangan bangsawan juga,keluarga Usman bin Affan masih banyak di Mekkah,dan keluarga Usman bin Affan pasti akan melindungi Usman bin Affan.

Usul Umar bin Khatab ini diterima Rasulullah.Sikap Rasulullah ini menunjukan bahwa Rasulullah bersifat sangat demokratis,tidak memaksakan kehendak beliau.Kemudian berangkatlah Usman bin Affan ke Mekkah,tapi ternyata Usman bin Affan pun gagal,bahkan dihembuskan kabar oleh pihak Quraisy bahwa Usman bin Affan,di tawan dan di bunuh. Mendengar kabar ini Rasulullah marah,dan mengeluarkan statemen “Kita tidak akan kembali sebelum kita dapat menghukum kaum musrikin itu!”.Dan kaum Muslimin pun bersumpah,bahwa mereka akan setia kepada Rasulullah dan akan membela Islam sampai titik darah terakhir.Sumpah inilah yang termasyur dalam sejarah Islam yang dikenal dengan sebutan “Baiatur Ridlwan”.

Mendengar statement Rasulullah dan kaum Muslimin ini,bangsa Quraisy menjadi gentar,terbayang di pelupuk mata mereka,ketangkasan pasukan Muslim di beberapa pertempuran sebelumnya.Terbayang di mata mereka kekalahan demi kekalahan yang mereka alami.Hingga bangsa Quraisy buru-buru mengirim utusan untuk berdamai dengan Rasulullah.Utusan Quraisy ini bernama Suhail ibnu Amr.Dan Rasulullah menyambut baik utusan damai pihak Quraisy ini, sebelumnya Subhail Ibnu Amr menjelaskan bahwa Usman bin Affan hanya ditawan tidak dibunuh, setelah dilakukan perundingan, akhirnya dibuat suatu perjanjian tertulis yang kemudian diberi nama perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah ini,terlihat seperti menguntungkan pihak Quraisy.Bahkan para sahabat dan kaum Muslim,melihat perjanjian itu sangat menguntungkan pihak Quraisy,satu-satunya sahabat yang mendukung Rasulullah hanyalah Abu Bakar Sidiq,tetapi rupanya Rasulullah melihat keuntungan lain,serta keteguhan beliau atas pertolongan Allah.Dan kaum Muslim akhirnya menyerahkan sepenuhnya keputusan ini kepada Rasulullah.

Secara defakto,keuntungan perjanjian ini merupakan pengakuan tertulis pertama kali dalam sejarah,oleh bangsa Quraisy akan adanya sebuah negeri Islam di Madina dibawah pimpinanan Rasulullah S.A.W

Keuntungan lain,Rasulullah dan pasukannya bisa menunaikan ibadah haji dengan damai,tanpa melalui pertumpahan darah.Dalam kisah perjanjian Hudaibiyah ini,terlihat keuntungan atas pertolongan Allah,keuntungan secara strategi perang terlihat dalam proses di bawah ini.

Beberapa saat setelah perjanjian Hudaibiyah di tanda tangani,munculah seorang pelarian dari Mekkah.Seorang suku Quraisy yang masuk Islam,yang kemudian ditawan oleh bangsa Quraisy.Orang ini bernama Abu Jandal bin Suhail.Setelah Abu Jandal tiba di hadapan Rasulullah,dengan serta merta bangsa Quraisy meminta Rasulullah mengembalikan Abu Jandal ke Mekkah,sesuai perjanjian Hudaibiyah yang baru saja di tanda tangani oleh Rasulullah sendiri.Betapapun sedihnya Rasulullah,tetapi beliau harus patuh kepada perjanjian itu,hingga Abu Jandal dikembalikan ke Mekkah.

Selang beberapa saat kemudian,datang lagi pelarian dari Mekkah,bernama Abu Bashir dengan dua orang temannnya kehadapan Rasulullah,dan lagi-lagi demi perjanjian Hudaibiyah,beliau mengembalikan Abu Bashir dan dua orang temannya ke Mekkah.Namun dalam perjalanan ke Mekkah salah seorang dari mereka dibunuh oleh bangsa Quraisy,hingga Abu Bashir melarikan diri ke Madina.Mendengar Abu Bashir di Madina,Rasulullah tidak setuju sebab ini melanggar perjanjian Hudaibiyah.Rasulullah meminta Abu Bashir pergi kedaerah mana saja yang dia sukai,diwilayah diluar perjanjian Hudaibiyah.

Dan Abu Bashir berangkat menuju Al-Ais,dipinggiran laut Merah.Al-Ais adalah daerah yang sering dilalui oleh para pedagang Quraisy yang pergi atau pulang dari Mekkah ke Siria atau sebaliknya.Tak lama kemudian menyusul Abu Jandal dan 70 orang Islam dari Mekkah ke Al-Ais.

Selanjutnya didaerah itu,Abu Bashir dan teman-temannya melakukan pencegatan-pencegatan terhadap para pedagang Quraisy yang melewati Al-Ais.Abu Bashir dan teman-temannya berhasil menyusun kekuatan yang besar di Al-Ais,yang terdiri dari para pelarian dari Mekkah.Hingga akhirnya Mekkah kena blokade,hubungan dagang Mekkah dan Siria terputus.Mekkah menjadi seperti kota mati,tanpa aktivitas perdagangan.

Menyadari situasi ini,akhirnya suku Quraisy sadar bahwa perjanjian Hudaibiyah justru merugikan mereka.Mekkah terblokade atas dampak perjanjian Hudaibiyah.Subhanallah..

Akhirnya bangsa Quraisy mengirim utusan kepada Rasulullah S.A.W,meminta agar perjanjian Hudaibiyah point 2 dan 3 dibatalkan saja,dan meminta agar pasukan Abu Bashir di Al-Ais di tarik ke Madina.Dan segera Rasulullah menyetujui permintaan ini serta menarik pasukan Abu Bashir ke Madina hingga pasukan di Madina bertambah kuat.

Dengan persetujuan Rasulullah,dengan dihapuskan 2 pasal dalam perjanjian Hudaibiyah serta penarikan pasukan dari Al-Ais,sebagian pembesar Quraisy berpikiran bahwa Rasulullah takut akan kekuatan Quraisy,mereka mencoba menghasut penduduk Mekkah,tetapi penduduk Mekkah mengerti bahwa para penguasa ini,hanya irih kepada Rasulullah,mereka hanya mempertahankan eksistensi mereka,kekuasaan mereka,hati mereka sudah tertutup akan arti kebenaran.Dan saat Rasulullah memasuki Mekkah,sebagian pembesar yang dengki ini melarikan diri,keluar dari Mekkah.

Padahal dengan dibatalkannya point 2 dan 3 perjanjian Hudaibiyah,itu berarti bahwa kaum Muslim boleh datang ke Mekkah berhaji,tinggal di Mekkah selama 3 hari dan tidak akan ada perang selama 10 tahun.Dan ini sesuai keinginan Rasulullah,bahwa beliau hanya ingin ber-haji dalam situasi yang damai,tanpa melalui pertumpahan darah.

Dalam peristiwa diplomasi ini,membuat seorang bangsawan Quraisy,adiknya Abu Jahal yang bernama Abu Sofyan,kagum dan terpesona dengan kepiawaian diplomasi dan keluhuran budi pekerti Rasulullah.Hingga Abu Sofyan mendatangi Rasullulah dan menyatakan masuk Islam.

Beberapa hari sebelum Rasulullah dan rombongan melajutkan perjalan ke Mekkah,atas usul Abbas (paman Rasulullah) bahwa Abu Sofyan diberi penghargaan,mengingat Abu Sofyan seorang yang baru masuk Islam,dia dikenal sebagai seorang bangsawan Quraisy yang suka bermegahan,yang tentu saja Islam masih terasa ganjil dihatinya.

Atas usul ini,Rasulullah meminta Abu Sofyan yang ditemani beberapa orang,untuk berangkat mendahului rombongan ke Mekkah,membacakan pengumuman Rasulullah dan memberikan penjelasan kepada penduduk Mekkah atas kedangan Rasulullah dan rombongan untuk menunaikan ibadah haji.

Isi pengumuman Rasulullah itu berbunyi, “Siapa saja yang masuk atau melindungkan diri kerumah Abu Sofyan di Mekkah,akan aman,begitu juga orang-orang yang tinggal dirumahnya masing-masing,tidak lari,akan mendapat keamanan pula,dan akan aman bagi setiap orang yang berada disekitar masjidil Haram (dipekarangan sekitar Ka’bah)”.Dengan bangganya Abu Sofyan membacakan pengumuman itu dihadapan penduduk Mekkah,dibumbuhi dengan perkataannya sendiri “hai oenduduk Mekkah,Muhammad akan datang sebentar lagi dan janganlah kamu bersikap menentang,sebab tidak ada gunanya”.

Sesaat setelah rombongan Rasulullah memasuki Mekkah,kota Mekkah dalam keadaan sepi,sebagian pembesar Quraisy telah lari keluar kota,sebagian mengikuti pengumuman Rasulullah,sementara mereka yang merasa banyak melakukan fitnah,melakukan pembunuhan terhadap pengikut Rasulullah,pasrah menanti hukuman Rasulullah di halaman Masjidil Haram.

Kemudian Rasulullah berdiri disalah satu tiang Msjid dihadapan penduduk Mekkah ini,dan berpidato,yang cuplikannya antara lain: “Hai penduduk kota Mekkah,tindakan apakah yang akan saya jalankan,tentu demikian kamu bertanya-tanya dalam hatimu sendiri.Tindakan saya lain tidak,ialah supaya kamu pulang kerumahmu masing-masing,semua bebas dari segalah tuntutan dan pembalasan”.Demikan akhirnya penduduk kota yang berdiam diri di halaman Masjid Haram ini,pulang kerumahnya masing-masing dengan perasaan aman dan damai,seraya tak henti-hentinya mengagumi keluhuran budi pekerti Rasulullah S.A.W.

Demikian lebih kurangnya kisah penaklukan tanpa tumpahan darah ini,semoga memberi inspirasi bagi kita semua,bahwa sesungguhnya Rasulullah S.A.W adalah seorang pejuang “perdamaian”, beliau selalu menempu jalan damai,meski beliau tidak menolak perang jika harga diri,agama dan bangsa Umat Muslim diserang.Tulisan ini sekali gus menolak tindakan-tindakan  “terorisme” yang belakangan menghantui dunia.Tindakan “terorisme” justru berusaha menfitnah (menjatuhkan nama baik) Rasulullah S.A.W dan Islam. Na’udzuh billah himinzalik..Tulisan ini diangkat melalui sejarah yang ditulis oleh KH.Firdaus AN dan berbagai sumber yang sempat saya pelajari.Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan,segalah kebaikan datangnya dari Allah dan sesungguhnya keburukan datangnya dari diri saya pribadi.

Note:
Untuk Kedamain dan kemakmuran Negeri kita (Indonesia) yang majemuk ini,marilah kita semua baik mereka yang sedang melakukan ibadah haji di Mekkah,umat Muslim ditanah air maupun diluar tanah air,dan umat non-muslim ditanah air.Sebaiknya kita semua berdoa untuk kedamain negeri kita (yang berdasarkan Pancasila) yang sama-sama kita cintai ini.

Doa Untuk Negeri.

Ya Allah ya Rabbi
dengan perantaraan safaat
Rasulullah S.A.W,mohon kiranya
segalah bencana dan melapetaka
yang menimpah negeri kami
agar ditangguhkan

diganti dengan hikmah
yang lebih baik untuk
kemaslahatan dan kemakmuran
negeri kami

Ya Allah ya Rabb
mohon bukakanlah hati
dan pikiran yang bebal
pemimpin-pemimpin kami
birokrat-birokrat kami
agar mereka tersadar
dari kesalahan-kesalahan
yang mereka perbuat

Ya Allah ya Rabb
mohon hindarkanlah negeri ini
dari bencana-bencana yang lebih besar
baik karena bencana atas kesalahan kami
maupun bencana karena alam

ya Allah ya Raab
sesungguhnya kami hanyalah
hamba-hambamu yang lemah
yang hidup jauh dari jamannya
Rasulullah S.A.W
mohon kasih hanilah kami ya Rabb
sesuai janji-Mu,bahwa tidak ada
bedanya antara yang Arab dan bukan
Arab kecuali dengan takwah.

Ya Allah ya Rabb
mohon bimbinglah kami
tuntunlah kami melalui jalan-Mu
agar kami bisa menjadikan negeri kami
menjadi negeri yang makmur dan damai
dan mohon tunjukan pada kami
mana yang haq dan mana yang batil (amin).. ==>>

Tag: , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Penaklukan Tanpa Tumpahan Darah (Soft Power).”

  1. jidat Says:

    Ni sby katanya sih lagi make softpower tapi kok malah kayak pencitraan diri, ujung2 dia kena hujat ha2x..

    ——🙂 menurut saya sih jadi pemimpin gak usah pake pencitraan segalah lah,toh akan selalu di sorot publik,jadi citra akan muncul dengan sendirinya bukan? beliaunya gak mau libatkan kita-kita sih yah gak🙂 tapi kita berpikir positif sajalah,sambil kritik tetap terus jalan ya gak.. jadi artinya kita akan melahirkan demokrasi yang positive, saat ini apalagi yang bisa kita banggakan,hanya demokrasi doang kan?😀 btw,ayo sama-sama kita dukung kedatangan President Barack Obama🙂

  2. mohon batuan? | Indonesia Search Engine Says:

    […] Penaklukan Tanpa Tumpahan Darah (Soft Power). « BootCamp Community. […]

  3. Ade Truna Says:

    ingat arab jadi ingat sumiati…😦

    —–
    iya euy..sadizz banget tuh majikannya sumiati,bisa jadi majikannya Sumiati itu turunannya Abu Lahab..

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: