Nuansa Sepekan (Opini).


Sri Sultan ke IX (Salah satu tokoh idola saya).

Beberapa pekan terakhir, cakrawala dunia di gelayuti isu-isu menarik.Seperti diantaranya,isu yang menimpa TKI/TKW kita,meski sebetulnya saya bukan orang yang bangga dengan adanya pengiriman tenaga kerja ini (dengan tidak mengurangi rasa empati saya terhadap saudara2 kita ini).Pengiriman tenaga kerja ini terasa seperti,eksploitasi tenaga manusia,sepertinya kita harus merubah paradigma kita tentang ini,ini sebetulnya bukan sesuatu yang membanggakan kita.Isu ini ada karena memang kesajahteraan kita masih kurang,dan banyak faktor penyebabnya salah satunya adalah karena ulah para koruptor,hingga menyebabkan negara menjadi kesulitan dalam hal menyediakan lapangan kerja didalam negeri.Saat ini “untuk kasus ini”sepertinya kita memang harus belajar dari Philipina.Dan penyelesaian kasus Sumiati cs,saya pikir kita harus berterima kasih kepada Gubernur Madinah (Saudi Arabia).Saya yakin dengan bantuan beliau,semua persoalan ini bisa teratasi dengan lebih adil.

Isu menarik lain,adalah memanasnya situasi di semenanjung Korea.Dalam kasus ini,jelas kita mengambil posisi netral,dengan mendukung Amerika dan China untuk menekan Korea Utara.China punya akses diplomasi dengan Korea Utara,mestinya ini bisa digunakan dengan baik oleh President Barack Obama🙂 sambil berpikir untuk memperpendek jadwal latihan perang bersama AS-Korsel.Perang bukan jalan keluar terbaik dalam masalah Korea ini,dan jika terjadi perang di semenanjung Korea,saya khawatir ini justru akan merugikan Amerika secara politis.

Selanjutnya isu menarik lain adalah gerakan menanam sejuta pohon oleh berbagai parpol di Jakarta.Nah kalau isu ini saya sependapat dengan parpol,memang bagusnya isu ini yang diintervesnsi secara politik🙂 sebab dijamin halal😀

Trus isu lain yang harusnya tidak perlu adalah isu DIY,saya lebih setuju dengan pendapat PDIP dalam kasus ini,sebab Jogjakarta sebagai kerajaan dilihat dari sisi budaya,dan ini tidak berbenturan dengan Demokrasi. Ada banyak hal “unik” yang bisa dipelajari dari Jogjakarta ini,antara lain minimnya kasus korupsi,suap,markup (dll) yang bisa diambil dari sistem birokrasi di Jogkarta.Ditengah maraknya berbagai kasus korupsi di berbagai daerah di tanah air.Lebih jauh Jogjakarta bisa di jadikan pusat budaya,ini penting untuk generasi mendatang,agar generasi mendatang tidak hanya sekedar membaca dalam sejarah tentang kerajaan-kerajan di Indonesia masalah lampau.

Dilihat dari sisi demokrasi jelas ini tidak berbenturan,ini bisa menjadi gambaran nyata bahwa demokrasi kita lahir dari berbagai sistem sebelumnya,dan itu terlihat jelas dari kerajaan Jogja ini.Kita tahu Inggeris dan Belanda menganut sistem monarki,tetapi tidak membuat mereka menjadi tidak demokratis.

Kalau bicara panutan politik,Sri Sultan Hamengku Buwono IX layak menjadi panutan,saya pernah membaca biografi beliau,beliau adalah seorang tokoh bangsawan yang berhati mulia,terlihat dari seringnya beliau ikut minum kopi di warung-warung warga di pinggiran jalan.Bahkan suatu ketika beliau pernah membantu mengangkut barang dagangan warganya,menggunakan mobil beliau sendiri,hebatnya warga yang beliau bantu,menyadarinya setelah sudah duduk berdua semobil dengan beliau.

Beberapa tahun lalu saya pernah menjadi pelancong gembel🙂 yang sempat masuk area istana Jogjakarta.Di suatu ruangan saya melihat seseorang yang lagi asyik makan diruang makan,sepintas saya berpikir orang itu adalah seorang abdi dalem yang lagi makan,beliau terlihat sangat sederhana dengan porsi makanan yang sederhana pula🙂 saya sempat mengangguk dan meminta permisi kepada beliau,dan beliau membalas dengan senyum sambil berucap “monggo mas” (silahkan masuk,maksudnya).Setelah dirungan sebelah “abdi dalem beneran” yang memandu saya,membisikan ke saya bahwa yang tadi itu adiknya Sri Sultan Hamengku Buwono X.Subhanallah saya kagum dengan keramahan dan kesederhanaan beliau.Ini jelas buah dari nilai-nilai tatakrama yang di tanam oleh para sesepuh keraton,melihat ini pantas rasanya kalau kita memberi penghargaan kepada DIY,mengingat DIY pernah penjadi ibu kota negara dan peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk negara yang tidak bisa dibilang sedikit.Lebih dari itu masyarakat Jogjakarta juga tidak menginginkan kultur ini berubah.

Demikian nuansa sepekan yang bisa saya ungkap,selain tentu saja satu isu yang paling menonjol yaitu munculnya tokoh Gayus yang fenomenal.Sudah seharusnya kita semua tidak memandang sebelah mata dengan nuansa Gayus ini,kalau mau berbagai persoalan bisa tuntas termasuk persoalan TKI/TKW,maka tuntaskan kasus Gayus ini dulu,karena ini merupakan sumber penyakit dinegeri ini.Dan satu isu lagi yang tidak terlihat,dipingitnya Pak Sri Bintang Pamungkas justru yang tidak demokratis. ==>

Tag: , , , , , , , , , , ,

5 Tanggapan to “Nuansa Sepekan (Opini).”

  1. Persepsi Soal Arti Monarki | Berita Indonesia Terbaru - Tweetfun.net Says:

    […] Nuansa Sepekan (Opini). « BootCamp Community. […]

  2. Farid Says:

    Terkait dengan isu-isu penting pekan ini,saya ingin menyorot para “pembisik” politik dibelakang pemerintah,karena kita tahu pemerintah (Presiden) tidak bekerja sendirian..

    Komunikasi politik yang dijalankan pemerintah terlihat sangat kontra produktif,antara statemet dan tindakan,dan ini sangat merugikan negara.

    Komunikasi politik yang dibangun terlihat sangat defensif meski terlihat santun,strategi komunikasi politik ini membahayakan lawan2 politik pemerintah dan tentu saja mengancam demokrasi.

    Lebih jauh tindakan komunikasi politik defensif ini,terlihat dengan tindakan pemerintah di acara perkemahan pramuka di Aceh baru2 ini,secara subtansi acara perkemahan ini memang baik,tetapi dengan kehadiran seorang petinggi negara,ini menjadi bermakna simbolik.

    Perkemahan pramuka ini,bisa berarti membangun opini untuk melawan DPR (tepatnya memposisikan DPR sebagai lawan politik).Kita tahu DPR bermasalah dengan isu kepramukaan terkait dengan kunjungan keluar negeri.Tindakan membangun opini ini,tidak baik untuk kestabilan politik tanah air.Bahkan ini memojokkan partai Demokrat di DPR sebagai partai pendukung pemerintah,hingga partai Demokrat menjadi terisolir di DPR.

    Praktek komunikasi politik defensif pemerintah,juga berusaha menekan lawan politik yang kebetulan berdarah Aceh,pak Surya Palo.Tindakan ini berhubungan juga dengan penekanan terhadap Pak Sri Sultan Hamenku Buwono X.

    Yang sangat disayangkan,praktek komunikasi politik menekan ini,cepat atau lambat akan berefek kepada disintegrasi bangsa.Kita tahu usaha pemerintah menekan Sri Sultan,menjadi bumerang bagi pemerintah,masyarakat Yogyakarta dan Indonesia umumnya menjadi tersakiti.

    Efek ini sangat berbahaya bagi negara,karena masyarakat Yogyakarta sudah menggulirkan wacana referendum,ini jelas pelanggaran berat pemerintah.Dikhawatirkan wacana ini akan bergulir,kita tahu isu RMS dan OPM belum selesai,dan wacana Yogya ini bisa menjadi pemicu.

    Untuk itu dengan perasaan menyesal,pemerintah harus menerima ini sebagai “pelanggaran konstitusi” dan “UU tentang keutuhan NKRI”.Dengan sangat menyesal pemerintahan ini harus diganti,sebab ini akan menyulitkan Negara.Tentu saja kita semua tidak mau ada pemerintahan yang berhenti ditengah jalan,tetapi inilah demokrasi,demokrasi memungkinkan itu.

    Dengan penuh hormat,sebaiknya Presiden mundur demi keutuhan bangsa dan negara.Kita tahu saat ini rakyat yang berdiri dibelakang pemerintah hanya tinggal partai Demokrat saja,sementara TNI dan Polri sudah berdiri dibelakang rakyat,karena hakekatnya TNI dan Polri adalah rakyat juga.Demi keutuhan bangsa dan negara,diharapkan DPR segera memproses ini,sebelum kita semuanya “karam”.

    Saat ini saya melihat 3 tokoh politik yang mumpuni,yang bisa menggantikan posisi puncak pemerintahan sampai pada pemilu 2014.Ketiga tokoh itu adalah,Sri Sultan Hamengku Buwono x,Pak Hidayat Nurwahid dan Pak Surya Palo (mekanismenya diserahkan ke DPR).Demi keutuhan bangsa dan negara,saat ini bergabungnya ketiga tokoh ini,akan bisa menyelamatkan kita semua.Dengan penuh hormat kepada Bapak Presiden agar beliau mau menyerahkan mekanismenya kepada DPR.

    Tentu saja kita semua tidak akan melupakan jasa pak Presidan SBY,dengan menyerahkan jabatan dengan baik.Itu berarti Pak SBY telah mampu menjembatani proses transisi Demokrasi negeri ini dengan baik(sejarah akan mencatat itu),sekaligus membuktikan jiwa demokratis beliau.Semoga semuanya bisa terlaksana dengan baik,aman dan terkendali.Amin..

  3. Farid Says:

    Referendum yang digulirkan masyarakat Yogyakarta tetap akan berkononatasi negatif,sebab tingkat pemahaman masyarakat seluruh Indonesia berbeda-beda,pemahaman masyarakat DIY sangat jauh berbeda dgn masyarakat Wamena,ini harusnya dipahami oleh pemerintah.

    Kalau mau cari solusi bersama,telepon politisi2 yang berseberangan dgn pemerintah,undang ke istana,sebab bisa jadi solusi yang dibutuhkan pemerintah dalam satu masalah justru ada dikepala Pak Sri Bintang Pamungkas misalnya,gak susah kan pemerintah melakukan itu? dan ini yang namanya demokrasi,bukannya teriak-teriak di media yang akhirnya justru pemerintah yang memprofokasi masyarakat,kita semua masih ingat dengan pernyataan pemerintah tentang pemerian HP untuk TKI/TKW kan? apa ini juga masyarakat salah persepsi? gak usah nyari kambing hitamlah, masyarat sudah lelah dgn semua ini,sebab ratusan juta penduduk negeri ini bukan mainan.

  4. Farid Says:

    Melihat pidato Pak Presiden ttg DIY tadi siang,saya jadi terpikir kalau misalnya Presiden Obama🙂 berpidato dengan topik yg sama,kira-kira jadinya akan seperti ini:

    Saudara-saudara..Gubernur dan masyarakat Yogyakarta yang saya cintai.Saya melihat kultur budaya Kerajaan Jogyakarta,dalam tataran daerah artinya kedudukannya sama dengan daerah-daerah lain yang berada dalam bingkai NKRI,dan tentu ini terakomodasi oleh demokrasi yang sedang berkembang di negara kita.

    Sesuai konstitusi dan UU yang ditetapkan pendahulu kita,namun karena ada tuntutan pembenahan draft UU dari berbagai kalangan,maka saya mohon bantuan Saudara Gubernur,Wakil Gubernur bersama DPRD dan masyarakat Jogya agar membuat draft Anda sendiri,karena saudara-saudara yang lebih mengerti tentang kultur dan keinginan masyarakat Jogyakarta kedepan,dan menurut saya disinilah keistimewaan daerah saudara.

    Tentu saja permintaan bantuan saya ini sesuai dengan kapasitas saya sebagai Presiden (🙂 senyum khas anak menteng ) kepada saudara Gubernur selaku pembantu saya di pemerintahan.Mengingat pekerjaan saya yang masih sangat banyak dan menumpuk,untuk itu bantuan Saudara akan sangat membantu saya,setelah draft UUnya selesai tolong dikirimkan ke saya,akan saya konfrontir dengan team kerja saya,mungkin ada perbaikan bila di anggap perlu,setelah itu akan di ajukan ke DPR.

    Demikian atas bantuan saudara-saudara,sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.Dan mohon bantuan doa saudara-saudara,agar saya dan staf saya dapat menyelesaikan berbagai persoalan dinegeri ini,terutama saya khawatir tentang si Gayus,kalau kemarin dia bisa melancong mengunakan wig bisa jadi dia akan melancong lagi pake blangkon (🙂 senyum khas anak menteng).Demikian saudara-saudara semoga menjadi maklum.🙂

    Note:
    -Pidato ala Presiden Obama ini terlihat pendek dan sederhana,tapi dijamin Rakyat Yogyakarta bisa tersenyum (khas anak menteng),dan sebaliknya si Gayus garuk-garuk kepala sambil manyun.

    Btw,referendum Jogya sudah terlanjur bergulir terutama di kalangan facebooker,tapi ini bukan kesalahan masyarakat melainkan kesalahan pemerintah.Proses mundurnya dipercepat Bos,sebelum org Papua dan RMS ikut bernyanyi,Anda pemimpin negara bukan pemimpin parpol.

  5. shelvy Says:

    sy mw brtax..
    bgmna pndpt anda ttg adax eksploitasi tng krj dlm bntk upah di bwh stdr,pggunaan jam krj mlbihi stdr,dan tdk adax jaminan bg tng krj dlm bidg kshtan / kslmtan kerja…???
    Dan lgkah appa yg hrs d ambil oleh tng krj dlm mghdpi kondisi sprti itu…???

    terima kasih..
    —-🙂 menurut saya sih, yah mengerikan. Duh susah jawabnya sih yah,soalnya saya orang diluar sistem pemerintahan.Yah sistem kita harus dirubah sih,saat ini saya pikir jangan berpikir yang enak-enak dulu,kecuali kalau pemerintahan berubah.. jalan satu2nya yah “rubah pemerintahan”, tenang aja,Insya Allah gak akan chaos koq.Asal para pendemo gak berbenturan ama Polisi,masak sama2 ‘pekerja’ harus bentrok🙂 toh untuk perbaikan semua kan? termasuk (Rakyat) Polisi dan Tentara tentu saja.

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: