Dipersimpangan Arah(Opini Filosofi).


Titanic

Melihat arah “kapal besar kita” kemanakah kita menuju? ke negeri Antah Berantahkah? atau kenegeri “baldatun tayibatun wa Rabbun gafur?” (puncak kesuksesan Demokrasi). Melihat arah kita saat ini, sesungguhnya kita sedang berada dalam transisi (persimpangan) menuju ke “keburukan” (Antah Berantah) dan atau menuju ke Negeri yang  sukses Demokrasinya.

Berbicara tentang Demokrasi yang sukses, tentu tidak akan lepas dari Penegakkan hukum yang jujur (transparan) dan berkeadilan. Bicara tentang hukum, mungkin kita harus melihat penegakkan hukum dinegeri kita saat ini. Apakah hukum kita sudah benar dan adil?..lantas apa akibatnya “bagi kita semua” kalau hukum kita tidak adil?

Melihat “akibat” dari hukum yang tidak adil, saya akan mencoba melihat dari sudut pandang Rasulullah S.A.W.Mohon maaf, saya melihat dari sisi ini karena di Negeri kita, Islam merupakan penduduk mayoritas, dan pelaku “ketidak adilan” bukan dari kalangan Islam🙂 *sambil clingak clinguk, garuk-garuk kepala* Astagafirullah hal adzim..

Apa akibatnya jika Hukum tidak adil?.. Rasulullah S.A.W bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kamu ialah, manakala seorang yang  terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun bila seorang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka akan melaksanakan hukum hudud atas  dirinya. Demi Allah, sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri,niscaya akan aku potong tangannya”. Hadits riwayat Aisyah ra. (Shahih Muslim No.3196)

Hmm..dalam konteks hadits Rasululullah diatas, sangat bersifat filosofis. “Membinasakan”= menjadi antah berantah, “umat-umat”= kumpulan banyak orang = komunitas manusia = Negara, “seorang yang terhormat” = pejabat = petinggi pemerintahan dsb, “mencuri”= korupsi = markup = suap menyuap dsb. Esensinya adalah suatu negara akan bangkrut jika para pembesarnya (para elit) diantara kita melakukan korupsi dsb, dan kita membiarkan hal itu terjadi (tanpa berusaha mencegah atau mengingatkan, bahkan memberi sangsi jika itu terbukti). Tapi apa yang terjadi jika “pelaku-pelakunya” justru ditutup-tutupi?

Rasululullah S.A.W :  “Namun bila seorang yang lemah di antara mereka mencuri,  maka mereka akan melaksanakan hukum hudud atas dirinya”.Di negeri ini pencuri seekor ayam lebih berat hukumannya ketimbang mereka yang “terhormat” melakukan pencurian milyaran rupiah. Fenomena ini saya pikir sudah bukan rahasia lagi, bahkan justru orang-orang lemah (miskin) cenderung dikorbankan.

Padahal dalam hadits lain, Rasulullah S.A.W mengingatkan:  Diriwayatkan dari Amr bin Sya’aib dari ayahnya dari kakeknya dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau ditanya tentang buah yang masih tergantung di pohon. Maka beliau bersabda,  “Barangsiapa mengambilnya karena kebutuhan tanpa mengantonginya,  maka tidak ada hukuman atasnya. Barangsiapa yang membawanya keluar maka ia dikenakan denda dua kali lipat dan hukuman. Barangsiapa mencuri buah yang telah disimpan dalam tempat pengeringan kurma dan mencapai harga seperempat dinar maka ia dipotong tangannya,” (Shahih lighairihi, HR Abu Dawud [1710] dan at-Tirmidzi [1289]).

“Barangsiapa mengambilnya karena kebutuhan tanpa mengantonginya, maka tidak ada hukuman atasnya”. Mungkin yang dimaksudkan disini adalah jika pelakunya orang miskin yang sedang kelaparan,yang dia mengambil buah itu karena terpaksa (dimakan ditempat), tidak ada jalan lain untuk menyambung hidupnya, maka hukuman tidak berlaku baginya. Tetapi kalau buah(uang)tersebut dibawah keluar dari kebun (rekening,brankas) yang bukan miliknya, itu berarti sudah tindakan mencuri. Apa lagi kalau buah tersebut sudah diolah dan disimpan dalam gudang penyimpanan (bank) itu berarti sudah perampokan.

Selanjutnya, Rasulullah S.A.W bersumpah :  “Demi Allah,  sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya”.  Nah hadits ini justru dijadikan oleh orang-orang yang tidak menyukai Rasulullah, untuk menyerang Rasulullah S.A.W dengan tuduhan bahwa Rasulullah S.A.W tidak menghargai hak azasi manusia. Padahal dalam hadits ini terlihat benar ketegasan Rasulullah akan penegakkan hukum. Ini dilakukan justru untuk melindungi hak azasi manusia, melindungi hak seseorang atau sekelompok orang dari gangguan pihak lain, yang tidak berhak. Dan siapapun yang melakukan pelanggaran terhadap “hak” orang lain akan dihukum, siapapun pelaku pelanggaran itu, termasuk jika seandainya pelaku pelanggaran itu adalah anak Beliau sendiri. Tetapi ketegasan ini juga diikuti oleh kearifan, sebagaimana terlihat dalam hadits beliau yang lain,seperti yang diriwayatkan dari Aisyah r.a, dari Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri kecuali ia mencuri barang seharga seperempat dinar atau lebih,” (HR Muslim [1684]).Dan diriwayatkan dari Rafi’bin Khadij r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada potong tangan pada pencurian tsamar dan katsar,” (Shahih, HR at-Tirmidzi [1449] dan Ibnu Majah [2593]).

Maksudnya (Insya Allah), bahwa hukuman diambil atas tingkatan kesalahan pelaku, jadi hukumannya ringan jika pelaku melakukan pelanggaran yang ringan, dan hukumannya berat (tegas) jika pelakunya melakukan kesalahan berat.”Pencurian tsamar dan kasar” mungkin, maksudnya pengadilannya harus transparan (terukur), adil, jujur dan tegas.

Lebih jauh, tentang hadits Rasulullah ini,”Demi Allah, sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya”. Ini adalah sumpah Rasulullah yang menunjukan ketegasan Beliau, atas pelanggaran pencurian (korupsi dan familinya). Dan sumpah ini diambil saat Umat Islam sudah maju, ini terlihat dari pernyataan Rasulullah tentang Fatimah, artinya Fatimah kalah itu sudah tumbuh menjadi seorang perempuan yang shaleha (dewasa). Dan Rasulullah yakin betul akan keshalehan putri Beliau (Fatimah). Saat itu orang-orang terdekat Rasulullah, imannya sangat kuat dan tidak mungkin mereka akan terkena sumpah beliau itu. Contoh iman orang-orang terdekat Rasulullah, bisa dilihat dari keshalehan Siti Khadijah ra, ibu dari Fatimah binti Muhammad.

Kebayang kalau ketegasan Rasulullah ini, diberlakukan kepada seluruh Masyarakat Jahiliyah Quraisy waktu itu, berapa ribu orang yang harus dipotong tangannya? Nah kalau “ketegasan” ini ditarik kezaman kita saat ini,di negeri sebut saja dinegeri “antah berantah” ini, berapa ribu orang yang harus dipotong tangannya? Naudzuh bilah himinzalik..

Tetapi saya yakin kalau “ketegasan” ini, saat ini diberlakukan di Jepang atau China, mungkin yang kena hukuman akan sangat sedikit bahkan mungkin tidak ada, karena disana tingkat korupsinya saat ini hampir tidak ada. Dan sesungguhnya yang sudah melakukan “subtansi” hadits Rasullah diatas adalah sebut saja Jepang dan china,hingga akhirnya mereka terbebas dari korupsi dan menjadi negara maju. Ironis memang ketika kita sebagai (Islam) negara berpenduduk Muslim terbesar di Dunia, tetapi harus belajar “subtansi” hadits Rasulullah S.A.W tersebut dari Jepang dan China yang nota bene bukan Negeri Muslim. Astagfirullah hal adzim..

Note, Pendapat ini hanya pendapat saya pribadi yang disandarkan dari Hadits Rasulullah S.A.W, yang dilihat dari sisi saya yang masih sangat awam, untuk itu jika terjadi kesalahan pemahaman mohon dimaafkan, jika ada kritik dan saran mohon di alamatkan dikolom komentar dibawah ini, kritik dan saran Anda akan sangat berguna bagi saya. Terima kasih. ==>

Tag: , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Dipersimpangan Arah(Opini Filosofi).”

  1. Farid Says:

    Setelah mendengar “bocoran”adanya Setgab yang ditiupkan PDIP di salah satu stasiun TV beberapa waktu lalu,saya jadi penasaran apa sih Setgab itu? trus browsing diinternet,dan menemukan twitternya Pak Mahfudz Siddiq,seterusnya menemukan linknya detik.com.Dari sedikit info itu saya mendapat sedikit gambaran tentang Setgab.Menurut saya sih yang memasung para politisi kita saat ini,yah Setgab ini.Aneh ketika Setgab dibangun bukan untuk menggalang kekuatan untuk perbaikan negara kedepan.Saya lebih melihat Setgab,adalah gabungan untuk mempertahankan kepentingan tertentu,misalnya gabungan untuk mengganjal kasus centuri,kasus Gayus dsb.Suka atau tidak masyarakat menilainya begitu.Jadi buat apa ada Setgab kalau bukan untuk Bangsa dan Negara?

    Setidaknya cuplikan ini,menguatkan dugaan bahwa Setgab dibangun bukan untuk “kepentingan Bangsa dan Negara: “Ada upaya pengebirian partai-partai menengah di Setgab,” kata sekretaris FPPP Romahurmuzy dalam diskusi yang digelar Charta Politica, di Kebayoran Baru, Jaksel, Senin (27/12/2010).Jadi buat apa ada Segab? tinggalkan sajalah Setgab itu.

    Kalau Setgab dibangun “dengan niat” untuk membangun Bangsa dan Negara,maka tidak akan pilih-pilih anggota,dengan siapa saja jadi (bahkan dengan masyarakat non parpol sekalipun) toh platformnya sederhana, intinya untuk kepentingan Bangsa dan Negara yang lebih baik kedepan, yang lain tidak (sederhana bukan?). So,kenapa harus jadi rumit yah?..

    Btw,apa tidak bisa melihat kegelisahan Rakyat saat ini?.. Seperti dalam kasus DIY misalnya, toh sudah keliatan banget apa maunya Rakyat.Selain bisa dilihat dari hasil sidang Paripurna DPRD DIY juga bisa dilihat dari jejak pendapat di situs ini.

    Ayo parpol menengah PPP,PKS,PKB, dan PAN plus PDIP,Hanura dan Gerindra serta Organisasi kemasyarakatan NasDem,bangun setgab sendiri yuk..kalo Golkar sih mau gabung boleh,mau enggak juga gak apa-apa..toh kekuatannya sudah pecah koq🙂 ayo tunggu apa lagi,asal platformnya untuk “Membangun Bangsa Dan Negara yang lebih baik Kedepan” Insya Allah akan didukung Rakyatlah..

  2. Farid Says:

    Tenang aja, “kendaraannya Pak Beye” tetap dikasih tempatlah. Dengan mengangkat Bang Poltak “Si Raja Minyak” menjadi Menteri Urusan Peranan Wanita. Pastilah cewek-cewek jadi pada histeris😀

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: