Duhai,beban psikologis Timnas Indonesia.


Contoh Laser yang digunakan suporter Malaysia.

Postingan ini hanya merupakan jawaban dari doa seorang sahabat narablog, dikolom komentar dipostingan saya sebelumnya.

Menjadi pemenang tidak hanya sekedar “garang dilapangan” dan ini sudah ditunjukkan oleh bintang lapangan kita, Gonzales. Christian Gonzales sudah menunjukan mental juaranya dilapangan hijau (khususnya di bukit jalil) Gonzales tetap tajam, terkontrol (tidak terprovokasi), dan dia tetap rendah hati (tidak lata dengan eforia bola yang belakangan melanda kita).

Menjadi juara hanyalah efek, menjaga emosi (hawa nafsu) atau mental, diri kita sendirilah yang wajib. Inilah bekal “penting” yang ditinggal Rasulullah S.A.W untuk kita sebagai umatnya, melalui statement Beliau “musuh terbesarmu adalah hawa nafsumu sendiri”. Ketika kita tidak mampu mengontrol hawa nafsu kita sendiri dalam ‘permainan’ apapun, akan membuahkan efek ‘frustasi’ dan hasilnya tentu saja kekalahan.

Hikmah (pelajaran) kekalahan Timnas Indonesia di bukit jalil, jika dilihat dari sisi Politik, yang bisa diambil antara lain:

–  Kecurangan suporter Malaysia, mengarahkan sinar laser kemata pemain Timnas kita. Menunjukan “nafsu” berlebihan untuk mencapai kemenangan (hasil), dan Islam sangat melarang ini “janganlah berusaha menggapai hasil(kesuksesan)dengan cara-cara yang curang”, menghalalkan segala cara.Sebab kalau hasil itupun didapatkan, pasti hasilnya hanya sementara, tidak langgeng, tidak memberi efek jangka panjang.

Dalam hal “kecurangan suporter Malaysia” ini,bisa dilihat direkaman pertandingan “bola sepak” dibukit jalil, sinar laser yang “disamarkan” berwarna hijau, terlihat jelas di costum penjaga gawang kita, yang kebetulan berwarna hitam. Rekaman ini bisa dilihat dari dokumentasi RCTI.

Efek sinar laser ini kepada pemain kita, selain mengacaukan indra penglihatkan pemain kita. Ini juga menyebabkan frustasi (buyarnya konsenstrasi) pemain kita, dan ini sangat mempengaruhi permainan pemain kita.Dan kemungkinan ini juga yang mempengaruhi kekalahan Vietnam, lawan malaysia di partai semi final. Mengingat Vietnam menggulirkan isu ini, hingga akhirnya terbukti di pertandingan dengan Timnas kita (di bukit abu jahal) kemarin..Astagfirullah hal adzim..

Secara politik,sangat sulit mengatakan kalau pelanggaran ini tidak terorganisir.Mengingat setelah protes wasit dan pemain kita,di paruh waktu kedua.’Ulah tak elok ini’ berhenti secara serentak,sangat sulit menghentikan ulah tak sedap ini,diantara ribuan suporter, kalau tidak ada komando, melalui HT atau sejenisnya. Maaf, dan ini menggambarkan Politik Malaysia secara keseluruhan,yang selama ini tidak hanya dikeluhkan oleh Indonesia, tetapi juga dikeluhkan oleh Singapura dan Filipina, khususnya dalam penentuan batas wilayah Negara.

–  Kekalahan Timnas kita di bukit jalil, juga merupakan buah dari efek,’beban’ psikologi “Politik” di tanah air. Kita tahu belakangan ini beberapa “individu” elit politik kita, menunggangi evoria kebangitan ‘sepak bola kita’dengan kepentingan politik sesaat. Belum lagi ‘beban’ dari kemelut PSSI, sebagai induk organisasi Timnas. Sebab, bisa jadi kekalahan Timnas merupakan jawaban dari ‘derita’ perburuan tiket ribuan Suporter Indonesia di Gelora Bung Karno,yang harganya juga selangit.

Sepak bola dan politik, tidak bisa dipisahkan. Mengingat ‘sepak bola’ merupakan olah raga terpopuler sejagad. Tetapi sepak bola bukan merupakan kendaraan tunggangan politik. Ini jelas mengancam kebangkitan sepak bola di tanah air, kalau ‘sahwat politik’ ini tidak segera dibendung. Seharusnya, Politik yang ‘mengayomi’ Timnas bukan sebaliknya. Astagfirullah hal adzim.. =>

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Duhai,beban psikologis Timnas Indonesia.”

  1. download Audacity free Says:

    thanks

  2. Farid Says:

    Selamat untuk Timnas Indonesia.Garuda Team telah menunjukkan permainan yang cantik,meski piala harus ke Malaysia dan memang harus diakui mental Tim Malaysia relatif stabil.Sayangnya didukung oleh suporter Malaysia yang barbar ketika di bukit jalil. Kali ini kita harus salut dengan Suporter Indonesia yang mampu sportif.

    Mestinya PSSI tetap memberi bonus untuk Timnas kita,meski nominalnya tidak sama dengan seperti yang dijanjikan PSSI.Anggap saja bonus itu berasal dari Suporter Indonesia melalui penjualan tiket.Agar Timnas Garuda bisa lebih giat lagi berlatih,kalau perlu diperbanyak melakukan pertandingan tandang.

    Bravo!Timnas Garuda. Bravo! Suporter Indonesia.

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: