Gaji Pejabat dan Kepekaan Nurani politik.


Sadarlah Wahai Pemerintah.

Menurut Guru Besar Ilmu Politik UI Maswadi Rauf, langkah pemerintah yang akan menaikan gaji 8.000 pejabat merupakan blunder. Maswadi kurang lebih menyatakan, Pak Yudhoyono mengeluh soal gaji, para menterinya langsung bertindak. Akan tetapi, kalau yang mengeluhkannya PNS dan guru honorer, tidak ada respon dari para menteri.

Wacana kenaikan gaji pejabat lebih banyak mempertontonkan ketidak adilan dan tidak mencerminkan kepekaan nurani politik para pejabat negara di tengah rakyatnya yang menderita. Bukankah selama ini pejabat negara selain memperoleh gaji, juga memperoleh berbagai tunjangan dan fasilitas negara?

Kenaikan gaji pejabat ditilik dari sisi waktu, juga tidak tepat. Ditengah bangsa ini didera berbagai kasus mafia yang diduga melibatkan para mafia di lingkungan pajak dan ‘oknum’ penegak hukum, skandal bank Century dan berbagai kasus lainnya, pemerintah malah berpikir dirinya sendiri, alih-alih memikirkan rakyat, pemerintah justru menjadi egois.

Wacana kenaikan gaji ini mengemuka ketika Presiden Yudhoyono menyatakan sudah 7 tahun tidak gaji. Selama ini, Presiden menerima gaji Rp 62 juta perbulan, dana taktis 2 milyar perbulan, serta berbagai fasilitas negara lainnya.

Menteri Keuangan Agus Martowardoyo pun cepat beraksi dan segera mengkaji ulang. Jika tidak, akan berdampak pada gaji pejabat lainnya. Penyesuaian gaji dan remunerasi bagi Presiden pada 2011 tentu berimbas pada penyesuaian gaji para pejabat negara, baik pusat dan maupun daerah. Berapa banyak uang negara yang akan terkuras untuk memfasilitasi para pejabat negara?

‘Harus diakui, gaji dan tunjangan pejabat pemerintahan kalah banyak oleh gaji dan tunjangan pejabat, misalnya, di BI atau BUMN lainnya.Oleh karena itu, memang kita harus sepakat ada peninjauan ulang atas ketimpangan itu’. lanjut Menkeu.

Persoalannya, apakah rencana kebijakan menaikan gaji pejabat ini sudah dilihat dari aspek nurani publik? pertanyaan tersebut amat penting diutarakan, ketika kita menyaksikan kemiskinan dipertontonkan dimana-mana, pendidikan semakin mahal, biaya kesehatan rakyat semakin tak terjangkau, hukum dapat dapat dibeli, kekuasaan di sandera politik uang, banyaknya oknum pejabat yang tersangkut kasus korupsi, merebaknya kasus suap dimana-mana, tes CPNS banyak masalah,dan sebagainnya.

Sebenarnya,mungkin saja pernyataan Yudhoyono itu bukanlah keinginan menaikan gaji dirinya.Namun nyatanya, hal ituΒ  justru direspons bawahannya dengan rencana yang justru kontraproduktif bagi rakyat.Seyogyannya justru para pejabat negara itu rendah hati dan menjadi teladan bagi rakyatnya.

Jangan suguhkan pesta pora di tengah kesengsaraan rakyat, berbuatlah sederhana, kencangkan ikat pinggang.Sesungguhnya,rakyat rela sengsara atas dasar keteladanan dan kesederhanaan para pemimpinnya.Akan tetapi,rakyat akan muak dan melakukan perlawanan jika pemimpinnya lebih memikirkan diri sendiri dan hanya sibuk mengurus kesejahteraan diri, keluarga atau kroninya.

Rakyat sudah sangat bersabar dengan berbagai penderitaan dan himpitan hidup yang semakin hari semakin sulit.Bagi rakyat, mendapatkan recehan rupiah pun masih sulit, apalagi puluhan dan ratusan juta rupiah. Ditambah lagi, harga BBM akan naik, tarif dasar listrik juga berkali-kali naik, harga sembako pun naik. Jadi,apa yang tidak naik di negeri ini?

Kita sangat berharap suatu ketika ada pemimpin yang bersedia menjadi orang pertama yang menderita ketika negeri ini sengsara.Selain itu,ia bersedia menjadi orang terakhir ketika negeri ini mendapat kebahagiaan.

Penulis, C Dar,dosen Politik Program Doktor Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.Sumber,Pikiran Rakyat edisi 27 Januari 2011.

Hmm..tulisan ini sengaja saya angkat disini untuk membuktikan bahwa kegelisahan itu ada dimana-mana.Dan manufer-manufer politik ini,bahkan tega memakan (menendang) teman seiring seperjuangan hanya demi untuk kepentingan KEKUASAAN, bahkan berani menginjak-nginjak kepentingan Bangsa dan Negara.Naudzu billah himinzalik. ==>>

Tag: , , , , , , , , , ,

6 Tanggapan to “Gaji Pejabat dan Kepekaan Nurani politik.”

  1. renungan Says:

    contoh kepemimpinan islam dimasa para kilafah nampaknya sama sekali tidak dicontoh oleh para pemimpin negara ini. semoga indonesia lebih baik kedepannya
    ———
    Iyah…terkadang saya malu mengaku berasal dari negara Islam terbesar di dunia ini, karena perilaku kepimpinannya justru bertolak belakang dengan ajaran Islam. Pada tahun 2008 lalu, kita nyaris runtuh karena krisis kepemimpinan, terlebih sekitar tahun itu pula, paradigma dunia tentang kita belum seperti sekarang ini, mereka melihat kita tidak lebih dari ‘gudangnya teroris’ tapi ini bukan salah mereka.Melainkan salah kita sendiri. Dalam hal ini kesalahan penguasa.

    Alhamdulillah, kita berhasil merubah paradigma dunia ini tentang Indonesia, tetapi rupanya sampai saat ini, para penguasa belum menyadarinya.Mereka bahkan dengan seenaknya mengklaim bahwa ini semua keberhasilan mereka semata, padahal ini belum apa-apa, masih sangat banyak hal yang harus dikerjakan, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

    Jujur sy khawatir, sikap pemerintah ini justru hanya akan kembali memancing, gerakan-gerakan aliran keras yang selama ini menentang pemerintah. Terorisme di Indonesia itu sebetulnya di tujukan untuk pemerintah, atas ketidak adilannya terhadap kemaslahatan kehidupan orang banyak. Percaya atau tidak, gerakan REVOLUSI di Tunisia dan Mesir sebentar lagi akan terjadi di kita. Tetapi REVOLUSI justru lebih baik, karena setelah revolusi,kita justru akan menjadi lebih baik, ketimbang membiarkan siatuasi seperti ini (seperti api dalam sekam), situasi pemerintahan sekarang ini justru hanya memancing gerakan-gerakan tak terlihat, seperti teroris kembali ‘beraksi’ dengan caranya sendiri, untuk menunjukan protesnya terhadap pemerintah, ini justru yang lebih mengerikan.

    Makanya saya lebih suka mendukung gerakan politik sinis ‘koin untuk presiden’, karena menurut saya ini merupakan langkah persuasif untuk bisa lebih meredam kemarahan Rakyat.

    Kalau melihat pendekatan politik pemerintah terhadap berbagai persoalan belakangan ini, sulit bagi kita untuk melihat Indonesia yang lebih baik kedepan.Wallahu’ alam bisyawab..

  2. Farid Says:

    Saya heran ama org2nya pak Beye ini,coba lihat pernyataan mereka,tentang Pak Nudirman Munir yang begitu ‘sopan’ menunjukan kekesalan politik terhadap pak Beye dengan mendukung ‘koin untuk presiden’. Disisi lain,mereka menutup mata rapat2 ketika pak Beye melanggar konstitusi tentang keistimewaan Yogyakarta.Apapun alasannya kasus DIY sudah merupakan pengingkaran terhadap UUD 1945.Ini harusnya yang lebih penting.

    Saat ini mereka malah beramai2 menarik diri dari dukungan mereka terhadap Pansus Mafia Pajak di DPR, padahal usul itu merupakan usulan kawan mereka sendiri.Mereka seperti mau menghindar dari kenyataan,seakan pemerintahan ini bebas dari para mafia,khususnya mafia hukum.Sebab nyatanya mereka seperti ketakutan kalau kedok mereka akan terungkap.Kalau mereka merasa bersih tentu saja mereka tidak akan seperti ‘kebakaran jenggot’ begitu.

  3. indahnyahidupku Says:

    hemmm…..gimana kalo dana yang akan dialokasikan buat naikin gaji presiden…kita alihkan buat mengentaskan kemiskinan di negeri ini?πŸ™‚
    —–
    ya..ya usulnya boleh juga tuh, dipertimbangkanπŸ™‚

  4. facebook Says:

    i love it

    oh thanks..

  5. kathy Says:

    yeah nice

    —πŸ™‚

  6. my website Says:

    i want to get one

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: