Melihat Pangkal Anarkisme di Negeri ini.


Stop Anarkis.

Melihat berbagai aksi anarkisme yang semakin merebak belakangan ini, membuat hati ini menjadi miris, dimanakah peran negara dalam pemberian rasa nyaman bagi setiap warganya? Kenapa carut marut ini seperti  tidak terselesaikan?

Mengikuti seruan Presiden SBY dalam milad Peringatan Maulid Nabi S.A.W kemarin.Bahwa yang intinya presiden mengajak kita semua(khususnya warga muslim) untuk mengikuti dan mencontoh perilaku Rasulullah S.A.W, dalam berbagai aspek kehidupan, dan tentu saja etika berpolitik bukan pengecualian.

Menurut saya yang awam ini, bahwa beberapa sikap Rasulullah yang menonjol, diantaranya ada 2 (dua) sifat, yaitu sifat JUJUR dan TEGAS.  Bicara mengenai kejujuran seperti yang diajarkan Rasulullah S.A.W dalam konteks kekinian. Itu artinya (katakanlah sebagai poltitisi politisi) kita harus berani menyuarakan dengan lantang bahwa kita harus jujur, apapun resikonya. Sebab yang pasti kejujuran selalu punya resiko,seperti dua sisi mata uang.Kejujuran kadang terdengar menakutkan bagi sebagian orang, karena kejujuran dalam konteks penyelenggara negera berarti, menarik garis lurus set up atau green design arah kebijakan negara.

Ketika kejujuran (garis lurus)  tentang green design sebuah negara ditegakkan, maka suka atau tidak, kejujuran akan terdengar indah ditelingah bagi sebagian orang, tetapi sebaliknya akan terdengar seperti  mengkritik  atau bahkan menfitnah bagi sebagian kecil orang. Jika kejujuran diartikan sebagai kritik itu berarti ada yang berjalan salah dalam pemaknaan kita dalam arti kejujuran itu sendiri.

Tentang ketegasan Rasulullah dalam kaitannya sebagai contoh,seperti yang dimaksud Pak SBY, tentu saja akan lebih afdol kalau ini diulas oleh para Pemuka Agama (dalam berbagai sudut pandang agama), dan khusus untuk KETEGASAN Rasulullah S.A.W  alangkah baiknya  kalau diulas oleh para Ulama agar tidak terjadi  salah penafsiran, dikalangan akar rumput. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa agama JANGAN DIJADIKAN legalitas (jualan) politik untuk kepentingan politik, tetapi gunakan jiwa agama (moralitas agama) dalam berpolitik,dengan begini diharapkan kwalitas politik akan melahirkan politisi-politisi negarawan,yang berkwalitas hight politik, seperti  yang sudah ditunjukan oleh Bung Karno,KH Agus Salim dan sejawatnya. Dan kalau mau jujur, kwalitas ini belum terlihat dalam konteks kekinian politik negeri ini,saat ini.

Mohon, jaga hati dan pikiran.Sebab artikel ini, bicara tentang KEJUJURAN dalam kaitannya dengan semerbaknya ANARKISME di negeri ini.

Menurut saya anarkisme yang belakangan merebakkan bau tak sedap di negeri ini merupakan luapan magma yang terpendam, yang terbentuk dalam sedimen-sedimen larva yang terbentuk dalam periode yang panjang. Periode selama 32 tahun orde baru, menyumbangkan letupan-letupan dahsyat magma kemarahan (anarkis) ini.

Kita semua tahu, bahwa pada zaman orde baru hampir semua kekuatan politik yang berseberangan dengan pemerintah, diisolir dan di bungkam, keadilan dan kesejahteraan rakyat tidak merata, hingga kemarahan ini meletus tahun 1998.Pada zaman orde baru, negara seperti tidak ubahnya sebuah mobil tua (rongsokan),dipoles agar terlihat anggun dan menarik dari luar, tetapi padahal ‘onderdil’ didalamnya tetap saja rapuh. Desakan-desakan kemarahan, ketidak puasan orde baru, akhirnya meletus pada tahun 1998. Dan terlihatlah bukti kerapuhan negara, pada zaman revormasi, rakyat mengartikan demokrasi dengan tindakan sesuka hati sendiri. Pucaknya terjadi pada kurun waktu tahun 1998 sampai 2003. Ini ditandai dengan, bergolaknya GAM di Aceh (meski kini sudah teratasi),kerusuhan Sampit dan Kerusuhan Sara yang sangat menyakitkan di Ambon dan sekitarnya.

Sayangnya sampai  saat ini,belum ada pemimpin yang menyadari ini.Ini terbukti dengan pidato presiden SBY belum lama ini,mengenai anarkisme, dalam pidatonya yang direkam dalam sebuah stasiun TV,beliau menyebutkan bahwa anarkisme terparah di negeri ini terjadi dalam kurun waktu tahun 1998-2003. Secara inplisit (politis), pidato ini hanya berusaha melemparkan permasalahan kepada pemerintahan sebelumnya.  Lebih tepatnya pidato ini hanya berusaha mencari kambing hitam, disamping membangun citra.

Maaf,saya hanya berusaha jujur, sesuai permintaan Pak Presiden agar kita semua mengikuti seperti yang dicontohkan Rasulullah S.A.W, dan tentu saja salah satu sifat Rasulullah yang menonjol  adalah kejujuran, dan Rasulullah tidak pernah kompromi dengan kejujuran, apapun resikonya.

Maaf, sebagai pemimpin (politisi negarawan) seorang presiden seharusnya tidak selalu melemparkan kesalahan kepada pihak lain, sebab ini hanya akan membuat permasalahan jadi tidak pernah selesai.

Kita tahu dalam peristiwa di Cikeusik (Banten) belum lama ini, ini hanya merupakan buah dari ketidak tegasan pemerintah dalam persoalan Ahmadiyah. Ahmadiyah sudah merupakan isu antar negara, karena sudah melampui batasan negara, dan sudah dilarang (dibubarkan) di beberapa negara. Di sisi lain Ahmadiya menuntut sisi kemanusiaan kita, karena ini menyangkut hak azazi manusia. Untuk itu penyelesainnya tidak cukup hanya dengan ‘mandat tiga menteri’ tetapi dalam hal ini harus oleh ketegasan pemerintah tertinggi negara. Agar nilai ketegasannya bisa lebih kuat. Dal hal ini, pemerintah(presiden) harus tegas dalam bertindak.

Anarkisme berikutnya terjadi di Temanggung. Dalam peristiwa Temanggung jelas terlihat provokatornya,penulis buku yang memancing kemarahan pihak lain jelas tidak bisa ditolerir (jelas ini merupakan tindakan sakit jiwa).Tetapi juga penyerangan ( pengrusakan) sebuah Rumah Ibadah juga adalah tindakan bar-bar, dan tidak ada agama manapun di dunia ini yang mengajarkan  ini.

Lagi-lagi ini kembali kepada ketegasan  Pimpinan negara, pemerintah harus tegas dalam soal ini. Sebab ini akan menjadi pijakan kepada pengambil kebijakkan di bawahnya.Maksudnya para pelaku kebijakan di lapangan akan menjadi gamang, sebab pemimpin tertinggi negara tidak punya ketegasan sikap.

Seperti misalnya, pemerintah akhirnya mendukung wacana Ketua MPR tentang wacana pembubaran organisasi massa yang anarkis. Tentu saja wacana ini baik, tetapi juga harus diikuti dengan keadilan, bahwa Ahmadiyah juga harus dibubarkan dengan tegas. Sebab pembubaran ormas akan memukul balik pemerintah jika, permasalahan Ahmadiyah justru mengambang.Sangat lucu, kalau tindakan pembubaran ormas di ambil hanya karena ‘oknum’ ormas tersebut mengacam ‘Presiden untuk mundur dari jabatannya’.

Lebih jauh, solusi penyelesain akar anarkisme adalah kebali kepada Pancasila Dan UUD 1945.Kemakmuran adalah hak setiap anak bangsa,dan keadilan sosial (menyeluruh/merata) merupakan solusi permanen dari setiap tindakan anarkisme. Kalau tidak percaya, lihat saja  negara-negara yang masyarakatnya makmur seperti  AS,Jepang,Singapura dll apakah disana ada tindakan anarkisme?.. =>

Tag: , , , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Melihat Pangkal Anarkisme di Negeri ini.”

  1. Farid Says:

    Persoalan Ahmadiyah tidak bisa diselesaikan dengan mencari persamaan, sebab ini sudah masuk kemasalah “antara yang HAQ dan BATIL”. Terminologinya sama dengan pemahaman teroris tentang Jihad. Meskipun perbedaannya (dengan yg HAQ) terlihat sangat kecil, tetapi outputnya sangat jauh berbeda, bagai Surga dan Neraka. Jadi DPR jangan membawa masalah ini ke ranah politik, meski penyelesaian akhirnya tetap dengan cara politik (karena ada benturan HAM) tetapi ini domainnya Pemerintah (Presiden),sebagai pengambil kebijakan.

    Dan mencari akar permasalahannya tetap merujuk kepada Fatwa MUI. Apakah Anda (Anggota DPR) mau bermain-main dengan urusan Surga dan Neraka?.. jangan main2 dengan persoalan ini, sebab ini merupakan masalah yang sangat prinsip dalam Islam.

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: