Ahmadiyah dari paradigma Bang Buyung.


Adnan Buyung Nasution.

Dari pernyataan Pak Adnan Buyung Nasution, tentang Ahmadiyah seperti yang saya kutip dari primaironline.com. (Mohon maaf, artikel yang saya maksud sudah hilang dari site tsb, untuk itu linknya saya ganti dengan linknya Tempo, agar supaya webmaster primairon tetap profesional, kalau faktanya bisa dipertanggung jawabkan jangan takut dengan tekanan dari pihak manapun ).

Menurut Pak Adnan bahwa pelarangan Ahmadiyah melanggar konstitusi serta hak asasi manusia. Pasalnya, konstitusi telah menjamin kebebasan bagi warga negara dalam beragama dan berkeyakinan sesuai kepercayaan masing-masing.

Saya hanya menyoroti paragraf pertama dalam artikel tersebut.Sebab merurut saya dari sinilah pangkal perbedaan pendapat tentang Ahmadiyah jika dilihat dari sisi konstitusi dan hak azasi manusia. Dan saya tidak sedang dalam posisi berdebat dengan Pak Adnan Buyung Nasution, tetapi hanya berusaha mencari kesamaan persepsi.

“Konstitusi menjamin kebebasan bagi warga negara dalam beragama dan berkeyakinan sesuai kepercayaan masing-masing”.

Ahmadiyah jika dilihat dari sisi penganut Ahmadiyah sendiri bahwa mereka tidak bisa dipisakan dari Islam, sebab menurut mereka bahwa mereka berpedoman pada Al-Qura’an dan Sunnah Rasulullulah S.A.W.Artinya posisi mereka berada dalam agama Islam, dan ini merupakan “keyakinan”,dalam hal ini keyakinan Ahmadiyah.

Nah sementara dari sisi Islam sendiri, seperti kita ketahui yang sudah dikemukakan oleh para Ulama, bahwa Ahmadiyah melanggar keyakinan dasar tentang Islam,dalam hal ini dua kalimat syahadat, sebab mereka menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi mereka, meski mereka belakangan membantah akan hal ini, tetapi fakta dan data-data dilapangan menunjukan bahwa memang mereka mengakui Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi mereka.Jika dilihat dari sisi “kepercayaan” tentu saja tidak ada yang melarang mereka,sebab itu keyakinan atau kepercayaan mereka, dan itu harus kita hargai.

Persoalannya kemudian datang dari kalangan Islam, bahwa Ahmadiyah sudah melanggar atau menodai akidah Islam.Artinya ada pihak lain yang terganggu dengan keberadaan Ahmadiyah ini.Dan tentu saja pihak yang terganggu ini juga berhak menuntut bahwa agama atau hak azasi mereka terganggu.Dan ini juga di hargai sesuai konstitusi, bahwa ini sudah melanggar hak azasi kepercayaan tertentu, dalam hal ini “kepercayaan” Islam.

Nah melihat analogi diatas pertanyaannya sekarang adalah, pihak manakah yang melanggar konstitusi? apakah mereka yang mendukung Ahmadiyah atau mereka yang melarang Ahmadiyah?..hmm semoga bang Buyung bisa menjelaskan ini secara lebih gamblang🙂

Intinya adalah konstitusi dibangun untuk menjamin agar “kebangsaan” didalamnya berjalan baik, teratur, tidak bersinggungan, saling menghargai dalam perbedaan. Agar kebinekaan kita bisa terjaga dan lestari, hingga kemakmuran Bangsa bisa tercapai. Jadi kalau begitu menurut konstitusi🙂 bahwa “bangsa” adalah ruang (space) suatu kehidupan berkelompok (dalam kebhinekaan) dalam wilayah tertentu. Artinya “bangsa” bukan berarti “penyatuan kehendak” (seperti) ide yang mengilhami dalam pembentukan koalisi🙂 Nah loh jangan-jangan koalisi yang justru bertentangan dengan konstitusi😀 (mohon maaf).

Jadi menurut saya Ahmadiyah justru sudah menggangu esensi kebhinekaan,yang dalam hal ini justru yang menjadi alasan dalam pembentukan konstitusi,karena posisi Ahmadiyah tidak jelas. Di satu sisi Ahmadiyah mengaku bagian dari Islam sementara di sisi lain Islam sendiri merasa terganggu.Nah saya pengin tahu pendapat bang Buyung tentang ini.. :)  =>

Tag: , , , , , ,

3 Tanggapan to “Ahmadiyah dari paradigma Bang Buyung.”

  1. Goda-Gado Says:

    ahmadiyah sebagai kepercayaan itu oke oke saja
    yg penting jangan ngaku Islam
    itu saja!
    gmn Wan??

    —-
    ya setuju banget Bro🙂

  2. renungan Says:

    saya rasa kalo ahmadiyah memisahkan diri dari islam, maka semua akan selesai (mohon maaf, saya bicara seperti ini karena ahmadiyah memang sudah ditetapkan menyimpang dari islam). permasalahan tanpa ujung yg trjadi selama ini adalah karena mereka membawa nama islam dalam aktivitasnya.

    ——
    Iya..iya Mas Cahyo, saya sependapat. Berdo’alah agar Allah memberi jalan keluar yang terbaik.

  3. Asop Says:

    Benar, sepakat seperti Mas Ahmed, silakan aja terus menjalankan keyakinannya, asalkan jangan bawa2 nama islam, katakan “Kami Ahmadiyah bukan islam!”😀 Begini beres…😐

    Intinya adalah konstitusi dibangun untuk menjamin agar “kebangsaan” didalamnya berjalan baik, teratur, tidak bersinggungan, saling menghargai dalam perbedaan. Agar kebinekaan kita bisa terjaga dan lestari, hingga kemakmuran Bangsa bisa tercapai. Jadi kalau begitu menurut konstitusi🙂 bahwa “bangsa” adalah ruang (space) suatu kehidupan berkelompok (dalam kebhinekaan) dalam wilayah tertentu. Artinya “bangsa” bukan berarti “penyatuan kehendak” (seperti) ide yang mengilhami dalam pembentukan koalisi🙂 Nah loh jangan-jangan koalisi yang justru bertentangan dengan konstitusi😀 (mohon maaf).

    Jadi menurut saya Ahmadiyah justru sudah menggangu esensi kebhinekaan,yang dalam hal ini justru yang menjadi alasan dalam pembentukan konstitusi,karena posisi Ahmadiyah tidak jelas. Di satu sisi Ahmadiyah mengaku bagian dari Islam sementara di sisi lain Islam sendiri merasa terganggu.Nah saya pengin tahu pendapat bang Buyung tentang ini.

    Saya menjadi semakin ngerti… makasih Mas Farid.😀

    —-
    Ya..ya Sob,makasih🙂 btw saya lagi nunggu tanggapan Bang Buyung nih, tapi Bang Buyung sudah menanggapinya dengan cara yang “unik”.. Bang Buyung hanya tersenyum dan bergumam pendek ” A+ ” katanya😀 *becanda Sob*.

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: