Esensi Rahmatan Lil Alamin.


Para Pencari-Mu,Ya Allah.

“Rahmat bagi seluruh Alam”..ketika kita bicara tentang Rahmatan Lil Alamin, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk mencontoh perilaku “Sang Al-Qur’an Berjalan”, yaitu Baginda Rasulullah S.A.W.

Islam adalah rahmat (kebaikan) untuk seluruh alam. Ketika subtansi Islam sudah terpatri dalam sanubari seorang Muslim, maka sungguh perilakunya akan terlihat. Ketika dia sedang mencabut sehelai rumput, maka dia akan berdo’a “Ya Allah, rumput ini juga bernyawa, maka maafkan hamba-Mu ini, saya kembalikan nyawa rumput ini kepada-Mu ya Allah, karena sesungguhnya rumput ini juga bertasbih dan bertahmid kepada-Mu. Dan sesungguhnya rumput ini “ada” melainkan hanya karena kehendak-Mu.

Ketika dia akan menyembeli seekor hewan, dia juga akan berdoa mengikuti aturan yang sudah diajarkan Islam. Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam, dalam terminologi di atas marilah kita tarik ke subtansi yang lebih luas, bagaimana Islam memandang mahkluk lain sebagai sesama manusia di luar lingkaran Islam?.. bagaimana dengan subtansi “hablumminanaas?”.. sebagai sesama manusia apakah kita diberi “otoritas” oleh Allah SWT untuk membunuh, menganggap diri kita yang paling benar dari pihak lain?..

Sesungguhnya siapapun diantara kita yang mengaku dirinya atau kelompoknya yang paling benar, maka sesungguhnya dialah yang justru “yang tidak benar”. Hmm..maka neraka jahanamlah bagi orang-orang yang mati karena merasa, dia yang paling benar hingga relah membunuh, membombardir manusia-manusia lain disekelilingnya,yang belum tentu bersalah. Seperti yang dilakukan “penebar teror” di Masjid Mapolres Cirebon. Naudzu billah himinzalik..

Suatu ketika Rasulullah S.A.W pernah membesuk (mengujungi) seorang yang beragama Yahudi,yang sedang sakit. Padahal seorang Yahudi ini, selalu meludahi Rasulullah S.A.W ketika beliau melewati rumah “orang Yahudi ini” saat pergi atau pulang dari shalat berjamaah di masjid. Subhanallah.. beginilah tipikal “Rahmatan Lil Alamin” yang dicontohkan Rasulullah S.A.W kepada kita sebagai umatnya.

Ya Allah, miris rasanya melihat pelaku bom bunuh diri itu berjubah bahkan mengaku melakukan Jihad dan membunuhi orang-orang yang justru sedang berdiri dalam syaf yang siap berdiri, ruku’ dan syujud dihadapan-Mu ya Allah.

Hmm..kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para ulama terdahulu, seperti misalnya sebut saja Rabi’atul Al Adawiyah dll, tetapi kita harus bisa meletakkan para “ulama ini” pada proporsi yang sebenarnya, bahwa sesungguhnya mereka juga hanya berusaha memaknai Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W. Jadi kenapa kita harus membuat mereka menjadi Imam kita? panutan kita? bukankah Imam kita hanyalah Rasulullah S.A.W ?..wahai “saudara-saudaraku” kembalilah kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W,agar perbedaan pemahaman (idiologi) diantara kita bisa di minimalisir. Agar dinul Islam bisa tegak berdiri.

Rahmatan Lil Alamin, menjadi jaminan bahwa siapapun, agama apapun,ras apapun, suku apapun akan merasa aman dan damai hidup berdampingan dengan kita, dan disinilah esensi Islam yang sebenarnya. Walahu’alam bisyawab, bagi para ulama mohon saya diberi penjelasan jika sekiranya saya salah, terima kasih.  =>

Tag: , , , , , , , , , , , , ,


%d blogger menyukai ini: