Dugaan tertangkapnya Nazaruddin, kabar baik atau kabar buruk ?


Ramadhan, bulan menimbang kesalahan diri.

Kita semua tahu nyanyian Nazaruddin terkait dugaan korupsi di tubuh partai Demokrat yang di bantah habis-habisan oleh partai tsb serta dugaan keterlibatan oknum pejabat KPK belum lama ini.

Kalau kita konsisten berpijak pada “praduga tak bersalah” seperti yang di sering didengungkan partai Demokrat dan para petingginya. Tentu saja asumsi ini tidak adil buat Nazaruddin yang sudah dinyatakan bersalah bahkan dinyatakan buron, sebab baimanapun Nazaruddin belum pernah diperiksa secara langsung didepan hukum. Dan opini publik sudah terpola bahwa Nazaruddin bersalah, dan ironisnya kesalahan Nazaruddin seakan tidak bersifat kolektif padahal semua orang sudah bisa membaca dengan jelas sistem yang menyertai Nazaruddin, dan kearah mana opini ini digulirkan.

Satu hal yang membuat posisi Nazaruddin menjadi sulit karena dia berdiri diposisi yang berseberangan dengan pihak penguasa. Hingga “Praduga tak terbersalah” seperti hanya berlaku bagi orang2 yang berdiri satu kepentingan dengan penguasa, sementara slogan mulia ini menjadi seperti “terinjak-injak” jika terhadap orang2 yang berseberangan dengan penguasa.

Kalau saja penguasa konsisten dengan “praduga tak bersalah” tentu saja mereka tidak perlu terlalu bereaksi keras terhadap nyanyian Nazaruddin. Hingga Nazaruddin sendiri menjadi seperti musuh bersama, tidak perduli seberapa besar jasa Nazaruddin kepada partai tsb, terlepas dari apapun kontribusi Nazaruddin sebelumnya. Demokrat terkesan mau lepas tangan terhadap Nazaruddin, seakan kasus yang membelit Nazaruddin terlepas dari partai tersebut. Ini jelas merupakan pengaplikasian slogan “produga tak bersalah” yang tidak proporsional.

Tertangkapnya Nazaruddin bisa berarti positif bagi penanganan kasus korupsi di Negeri ini tetapi juga bisa jadi justru sebaliknya, peng-“petiesan” kasus-kasus yang diduga melibatkan orang-orang dibalik dilingkaran penguasa yang diduga terlibat.

Ketika bicara “praduga tak bersalah” tentu saja harus ada “praduga bersalah”, dan siapapun yang terindikasi tersangkut kasus apapun, hendaknya kedua asumsi ini harus melekat padanya. Dengan begini diharapkan “pengungkapan” kasus korupsi di negeri ini bisa berjalan baik, tidak stagnan seperti sekarang ini.

Persoalan kemudian jika tidak terbukti bersalah, pemerintah tinggal mengumumkan pemulihan nama baik, melalui media massa dan sebagainya. Tentu saja paradigma penegakkan hukum di negeri ini saat ini berjalan tidak proporsional, hingga mengakibatkan hukum semakin terpuruk.

Tertangkapnya Nazaruddin, dihawatirkan akat membuat Nazaruddin akan masuk dalam pusaran tarik-menarik kepentingan besar di negeri ini. Kita tahu hukum di negeri ini, berjalan tidak transparan dan tidak accountable (tdk terukur). Hingga “penyebab” kasus-kasus besar seperti pada kasus Century, Gayus, Susno Duadji, bahkan Antasari Azhar tenggelam bak ditelan bumi.

Sangat lucu ketika bicara “praduga tak bersalah” tetapi kasus besar seperti Century yang sangat jelas ada pihak yang dirugikan, dan ada indikasi keterlibatan oknum penguasa, tetapi langsung di petieskan dengan tameng asumsi “praduga tak bersalah”, sementara Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti yang jelas-jelas belum bisa dibuktikan didepan hukum tetapi justru langsung dinyatakan tersangka (bukankah slogan praduga tak bersalah menjadi kontra produktif ? ).  Ini jelas bisa berbenturan dengan Hak Azasi Manusia, dalam hal ini hak Azasinya Nazaruddin. Dan Hukum menjadi tidak efektif karena akan mudah didikte oleh opini publik yang sengaja dibangun.

Mestinya “Praduga tak bersalah” juga berlaku “terbalik” kepada Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Ibas Yudoyono, Angelina Sondakh, Andi Nurpati, Chandra Hamzah dan siapapun (sesuai keterlibatan masing2 pada kasus masing2) tanpa melihat berasal dari partai manapun.Sebab bagaimanapun menjadi sangat tidak adil kalau semua Nyanyian Nazaruddin (atau whistle blower lainya) semuanya di anggap “Nyanyian kosong Sampah”, karena toh Nazaruddin sebelumnya sangat dipercaya menjadi Bendahara partai Damokrat bahkan diangkat menjadi Anggota Dewan Yang Terhormat.

Melihat perjalanan berbagai kasus besar di negeri ini, rasanya Rakyat terlanjur skeptis dengan keseriusan pemerintah dalam hal penegakkan Hukum dan Hak Azasi Manusia di negeri ini, dan Nazaruddin menjadi pertaruhan itu, menjadi kabar baik kah? atau justru menjadi kabar buruk?. Wallahualam bisyawab.. to home page

Tag: , , ,

Satu Tanggapan to “Dugaan tertangkapnya Nazaruddin, kabar baik atau kabar buruk ?”

  1. Asop Says:

    *manggut-manggut* Yang manapun pilihannya, pokoknya Nazaruddin harus pulang.🙂
    ——
    Sob,dengan carut marutnya hukum kita saat ini, Nazaruddin pulang pun belum tentu membuat persoalan yg menyertainya bisa tuntas, salah2 malah justru Nazaruddin yg dikorbankan, ya moga Lembaga Perlindungan Saksi bisa bekerja maximal.

    Anggota DPR pun (Pak Bambang Susatyo) khawatir dengan penghilangan bukti2 seperti yang disebutkan Nazaruddin. Artinya kan indikasi kejahatan ditingkat elit, bukan sekedar isapan jempol. Edan gak tuh Sob🙂

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: