Menunggu “Benturan” Amnesia Politik.


Amnesia Politik.

Melihat perkembangan kasus Nazaruddin, pasca sehari tibanya Nazaruddin di tanah air. Rasanya tidak berlebihan kalau banyak pihak yang menyangsikan pengungkapan kasus ini berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Meski Nazaruddin di jaga ketat oleh aparat kepolisian, tetapi sudah menjadi rahasia umum kalau kepolisian di negeri ini tidak bisa  benar-benar independent, karena kita tahu secara prosedural kepolisian masih berada dibawah kendali presiden, artinya jika harus berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar (apapun kepentingan itu,bertentangan dengan kepentingan negara sekalipun) jika itu menyangkut kepentingan diatasnya pasti kepolisian menjadi grogi.

Mungkin ini yang menyebabkan cara kerja gemilang kepolisian dalam menangani kasus terorisme,tidak terlihat dalam penanganan kasus korupsi. Padahal terorisme di negeri ini bisa terjadi karena adanya “sebab” ketidak adilan penguasa dalam memanage berbagai kasus, diantaranya kasus korupsi, jadi kejahatan korupsi bisa di kategorikan setara dengan terorisme, bahkan bisa jadi ketidak sukaan terhadap koruptor bisa menyuburkan terorisme.

Sungguh jika diamati lebih dalam berbagai kasus kejahatan dinegeri ini, penyebabnya datang dari ketidak adilan kebijakan penguasa itu sendiri. Ibarat terkena “amnesia” hirarki politik maka untuk mengobatinya, kita harus mencari penyebab datangnya penyakit tersebut. Jika penyebab penyakit itu memerlukan “benturan” yang setara dengan penyebab penyakit itu, maka terapynya kita harus membenturkannya lagi sebesar benturan penyebab itu.

Jika misalnya penyebab amnesia itu karena benturan,hingga menyebabkan penderita lupa akan semua ketentuan yang berlaku, maka terapynya adalah benturkan lagi sipenderita, sebesar benturan penyebab amnesia tadi, agar ingatan sipenderita amnesia bisa pulih lagi.

Dalam soal kasus Nazaruddin,rasanya negeri ini memerlukan “benturan” itu, sebab lihat saja pernyataan M.Jasin dari KPK bahwa : “Nazaruddin tidak mau didampingi oleh team pengacaranya”. Secara logika sangat tidak mungkin seorang Nazaruddin yang terhimpit beban yang begitu berat tidak memerlukan bantuan orang lain.

Terlebih jika penolakan itu ditunjukan kepada orang-orang yang justru ingin menolongnya.Kecuali jika Nazaruddin sudah memperoleh “penolong” lain, yang bisa menjanjikan kemenangan bagi Nazaruddin.Persoalannya KPK sudah menjatuhkan dakwaan bahwa Nazaruddin bersalah.

Nah kalau “penolong” itu bukan datang dari para pengacara Nazaruddin (sejauh ini pengacara Nazaruddin belum barhasil menghubungi Nazaruddin), itu berarti bisa jadi Nazaruddin sudah mendapat jaminan pertolongan dari pihak lain, oleh karena Nazaruddin sudah didakwa sebagai tersangka oleh KPK maka sudah bisa ditebak pihak mana yang menjanjikan pertolongan itu. Sebab setangguh apapun Nazaruddin, tidak mungkin dia mampu atau mau mengatasi semua tekanan yang begitu berat seorang diri.

Nah dengan asumsi ini (maaf, kasus ini syarat dgn muatan politik, dan politik adalah asumsi,jadi jangan salahkan kalau rakyat berasumsi). Terlihat jelas kalau pengungkapan kasus ini akan berjalan tidak transparan,akuntabel dan objektive sesuai “nyayian penguasa”.

Kalau benar ini terjadi, maka tungguh saja terapy “benturan” amnesia yang datang dari Penguasa Bumi (Allah SWT), melalui gerakan kemarahan rakyat.Dan kalau ini terjadi,revolusi di negeri ini tidak bisa dihindarkan lagi. Karena Revolusi menjadi masuk akal sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi di negeri ini. Walahualam bisawab.. to top page

Tag: , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Menunggu “Benturan” Amnesia Politik.”

  1. Asop Says:

    Saya tak sabar lagi menunggu sepak terjang Nazaruddin dalam membongkar borok Partai Demokrat.:mrgreen:

    —–
    Nazaruddin kayaknya berhasil dibungkam tuh🙂

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: