Kasus Nazaruddin antiklimaks penegakkan hukum negeri ini.


Sumber,ilustrasi gambar: utpa.edu

“Nyanyian” Nazaruddin berubah menjadi “lolongan”, (mohon maaf, kalau ini terdengar kasar). Ibarat kata pepata “seperti menolong anjing yang sedang kejepit,begitu jepitannya lepas anjing tsb justru berbalik menggigit sipenolong”.Beginilah komunikasi politik,lolongan Nazaruddin merupakan komunikasi politik, dan beginilah kelemahan komunikasi politik, semua orang bisa berperspektif dari paradigma masing-masing.

Lolongan Nazaruddin secara resmi ditujukan kepada Pak SBY, tetapi secara subtantif justru komunikasi ini ditujukan kepada publik. Dan pesan ini bermakna dua hal selain tujuan resminya.

Makna pertama: Nazaruddin ingin mengatakan ke publik bahwa Pak OC Kaligis (pengacaranya) benar.Dan makna kedua, Nazaruddin ingin mengatakan (maaf tepatnya memaki) para mantan koleganya, yang salah satu elitnya disebutkan Nazaruddin.

Sekali lagi mohon maaf, ini adalah preseden buruk buat Pak SBY, sekaligus buat negeri ini, mengingat Pak SBY juga menjabat sebagai presiden.

Kasus Nazaruddin ini akan berimplikasi buruk bagi Pak SBY dan negeri ini, terungkap atau tidak skenario yang bermain dibelakangnya.Dan Pak SBY harus berhati-hati menanggapi komunikasi politik Nazaruddin ini, sebab Nazaruddin seperti melepas senjata bumerang.

Kalau bisa memberi masukan untuk perbaikan citra Pak SBY dan Demokratnya, kasus ini mestinya diusut tuntas tanpa intervensi Pak SBY dan Demokrat, melalui KPK tetapi oknum KPKpun sudah terjadi conflict of interest terhadap Nazaruddin.Jadi jalan satu-satunya mempercepat proses pemilihan para pimpinan KPK secara kolektif dibawah kontrol DPR, dan mengganti para pimpinan KPK dengan para pemimpin baru, agar tingkat kepercayaan publik kepada KPK kembali pulih.

Sebab dalam kasus ini yang dipertaruhkan bukan hanya citra Pak SBY dan Demokrat, tetapi lebih luas juga citra penegakkan hukum di negeri ini.Jujur opini yang muncul, setelah “lolongan” Nazaruddin adalah bahwa penguasa negeri ini sangat diktator, dan kepercayaan publik dalam dan luar negeri terhadap pemerintahan negeri ini merosot tajam, indikasinya penolakan Interpol terhadap red notice-nya KPK untuk istri Nazaruddin.

Mohon maaf, beginilah jadinya kalau semuanya berjalan tidak transparan, dan ironisnya justru nama baik bangsa ikut tercoreng.Bagaimanapun saat ini kita sudah masuk di era teknologi informasi, dimana bumi dalam bentuk informasi telah menjadi satu kesatuan, informasi dikita saat ini akan ter-conect dengan cepat (dalam hitungan secon) dibelahan dunia lain.

Dalam hal ini menekan Nazaruddin menjadi sangat tidak bijaksana, sebab ini akan memancing kemarahan aktivis Hak Azasi Kemanusiaan Dunia, dan tentu saja akan berimplikasi pada empati publik terhadap Nazaruddin. Semoga opini ini bermanfaat.. to home page

Tag: , , , , , , ,


%d blogger menyukai ini: