Makna Idul Fitri 1432 H di Kaki Katulistiwa.


Idul Fitri 1432 H, 1(atau 2) Syawal 1432 H.30 (atau 31) Agustus 2011 M baru saja dirayakan, terlepas dari apapun kontroversi yang menyertainya, dengan hati yang bersih dan fikiran jernih marilah kita semua melihat dari sisi manfaat atau hikmah yang terkandung dari pelajaran yang Insya Allah, Allah berikan dibalik perayaan Idul Fitri ini kepada kita semua sebagai bangsa, hari ini dan jauh kedepan.

Perayaan Idul Fitri dari perspektif Pancasila, adalah sama dengan perayaan hari-hari besar keagamaan lainya di negeri yang terletak dibawah Katulistiwa ini. Idul Fitri di jamin oleh Pancasila, tetapi resistensi yang menyertainya tentu saja di serahkan oleh Pancasila kepada pemeluk agama masing-masing yang merayakan hari raya tersebut sesuai keyakinan pemeluknya.Intinya Pancasila tidak bisa serta merta ikut campur tangan atas resistensi tersebut, karena Pancasila hanya bersifat pengayom dan bukan pelaksana terhadap permasalahan (teknis) yang terjadi dalam pelaksanaan hari-hari besar keagaman dinegeri ini, jika terjadi kesalahan teknis dalam suatu perayaan agama, supaya jangan dibenturkan dengan Pancasila. Perbedaan dalam perspektif Pancasila adalah perbedaan dalam hal lintas agama, jadi bukan perbedaan dalam satu kegiatan teknis keagaaman,dalam satu agama tertentu.

Kembali ketopik diatas, pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1432 H, yang suka atau tidak, sejarah mencatat seperti yang tertulis diparagraf pertama alinea pertama dalam goresan ini.
Alhamdulillah meski demikian tetapi akhirnya berjalan damai,aman dan terkendali, seperti yang diharapkan semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung didalamnya.

Penulisan perayaan Idul Fitri seperti di atas seperti kita ketahui bersama sudah terjadi beberapa kali dalam periode tahun-tahun terakhir sampai pada Agustus 2011 M,diharapkan agar ini tidak terjadi ditahun-tahun mendatang. Penulisan ini harus diambil agar “negeri di kaki Katulistwa” ini tidak tercatat sebagai negeri pembuat/pelaksana teknis perayaan hari besar keagaman, yang mengkoreksi penanggalan tahun Hijriyah dan Masehi yang telah disepakati Dunia.

Sebab baru tercatat pertama kali dalam sejarah Dunia, penghitungan waktu yang berpangkal dari titik yang sama, terjadi selisih waktu 24 jam dititik yang sama,pada perayaan hari besar yang mestinya sama. Ironi ini uniknya mendapat persetujuan pengambil kebijakan yang sejatinya terlibat langsung, bak serial Upin Ipin “betul..betul..betul” (sambil manggut-manggut).

Dari perspektif Demokrasi tentu saja ironi ini tidak menjadi masalah, tetapi dari perspektif sejarah, ilmu pengetahuan dan Islam sendiri sebagai pelaksana perayaan tersebut,ironi ini patut dipertanyakan, mengingat Islam mengajarkan bahwa berpuasa (shaum) pada tanggal 1 Syawal (Idul Fitri) tidak dibenarkan (haram),sebagai penghormatan kepada perayaan hari yang Fitri tersebut.

Seperti yang tertulis dalam penanggalan diatas, sudah pasti terjadi kegelisahan logika, bahwa yang pasti salah satunya salah, dan itu berarti haram.Karena sejatinya menurut ilmu hisab (penghitungan perputaran bumi mengitari matahari) sudah pasti salah satunya tidak benar, karena yang pasti sejatinya hanya ada satu 1 Syawal di area atau titik yang sama, pada waktu yang sama.

Perayaan Idul Fitri sangat berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain, seperti shalat, puasa dan sebagainya yang sifatnya berhubungan langsung dengan Tuhan (Allah), secara logika ibadah-ibadah lainnya menjadi tanggung jawab langsung pelaksananya kepada Allah S.W.T jadi dalam area tersebut menjadi tanggung jawab masing-masing yang tidak bisa disama ratakan, disesuaikan dengan keyakinan/pemahaman masing-masing, yang tentu saja penilai benar atau tidak, hanya Allah S.W.T saja. (Wallahu alam).

Perayaan Shalat Idul Fitri sifatnya massal (kolektif) yang jika terjadi tenggat waktu pelaksanaan di area yang sama, akan menimbulkan kegelisahan ditingkat masyarakat awam. Disinilah diperlukan kebijaksanaan pengambil keputusan, dan keputusan ini bukan keputusan politik tetapi keputusan yang berhubungan langsung dengan Allah. Itulah sebabnya para Ulama terdahulu mengingatkan bahwa seorang pengambil kebijakan (pemimpin/presiden khususnya dilingkungan Islam) harus mampu berdiri (menjadi perantara) antara Allah dan umatnya.

Seperti yang terjadi pada penentuan 1 Syawal tahun ini, pihak organisasi keagamaan Muhammadiyah merujuk pada sumber sama kuatnya dengan MUI oraganisasi keagamaan Islam lain diatasnya. Meski berpijak pada sumber yang sama, tetapi ironisnya terjadi perspektif yang berbeda terhadap sumber yang sama, hingga akhirnya terjadi pengambilan keputusan yang berbeda,terhadap persoalan yang sama, hingga tentu saja menimbulkan pelaksanaan yang berbeda.

Mestinya Khalifah, pemimpin tertinggi negara (dalam hal ini Presiden) tidak boleh pasif dalam hal yang sifatnya akbar ini.Karena perayaan ini bersentuhan langsung dengan rakyat banyak, dari komunitas Muslim terbesar, bersyukur Allah masih berkenan melindungi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Seperti diketahui, Muhammadiyah dengan dalil-dalilnya yang tidak bisa terbantahkan memustuskan 1 Syawal jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011, sebaliknya disisi lain MUI (cq departemen agama) dengan tidak kalah heroiknya memustuskan 1 Syawal jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Kedua kubu ini sama-sama punya dalil yang tidak terbantahkan, meski keduanya berpijak pada sumber yang sama. Tetapi secara logika sudah pasti salah satunya salah,karena tidak mungkin perhitungan penanggalan yang sama, di area waktu yang sama,terjadi selisih waktu.

Nah disinilah perlunya kita punya pemimpin tertinggi, sebab dalam sistem ketata negaraan presidenlah pengambil kebijakan tertinggi, meski memang harus merujuk pada keputusan-keputusan para pemuka agama dan para ahli perbintangan.

Keputusan yang paling mungkin diambil adalah..wani piro Bos?.. (sambil garuk-garuk kepala)🙂

Solusinya,Jika (misalnya) organisasi A memutuskan tanggal 1 Syawal jatuh pada tanggal 07 bulan berjalan, dan keputusan ini berpijak pada dalil-dalil yang tidak terbantahkan, sementara organisasi B (misalnya) memutuskan 1 Syawal jatuh pada tanggal 08 hari berikutnya meski juga berpijak pada dalil-dalil yang kuat, tetapi “sudah pasti” keputusan organisasi B dengan sendirinya dianggap “TERBANTAHKAN”,dengan keputusan yang jatuh pada tanggal sebelumnya. Artinya 1 Syawal yang jatuh pada tanggal 08 dianggap “tidak dibenarkan”. Keputusan pada tanggal 08 menjadi lemah karena sejatinya tanggal tersebut sudah menjadi tanggal 2 Syawal, menurut keputusan yang sama kuatnya pada tanggal 07 bulan yang sama. Dan siapa saja yang berpuasa (shaum) pada tanggal 07 tersebut sudah menjadi haram, menurut ketentuan Islam, dan sebaliknya justru bagi yang berpuasa pada tanggal 08 bulan tersebut menjadi sunnat.

Dan ini Insya Allah secara filosofi sesuai dengan range waktu dalam Hadits Rasullullah S.A.W, yang menyatakan bahwa “jika kamu belum melihat hilal,maka cukupkanlah puasamu”. “Cukup” disini bukan hanya berarti 29 jadi 30, tetapi juga bisa berarti sebaliknya bukan?..Semoga Bermanfaat (Wallah hu’alam bisyawab).  ==>>

Tag: , , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Makna Idul Fitri 1432 H di Kaki Katulistiwa.”

  1. Asop Says:

    Mas Farid, maapin saya lahir batin ya…😥
    —–
    Yap..yap..gue juga maapin ya, but don’t cry man.. 🙂

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: