Surat (message) dari Zaman Berbeda Untuk para Pemimpin Zaman Berbeda ( 110 H – 1430 H / Naskah Kuno ).


naska-kuno1 “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin!..”

Bahwa Allah SWT, menjadikan Kepala Negara yang adil untuk menaur-luruskan segala yang miring,membetulkan segala yang bengkok,memperbaiki segala yang rusak,membilai-kuatkan segala yang lemah, membela segala yang teraniaya dan untuk menjadi penolong bagi segala orang yang terlantar.

Kepala Negara yang adil,wahai Amirul Mukminin, adalah laksana seorang gembala yang sayang kepada binatang gembalaannya, kawan yang mengantarkannya ke tempat gembalaan yang lebih baik, menjauhkannya dari tempat-tempat yang berbahaya, menjaganya dari gangguan binatang buas dan memeliharanya dari kepanasan dan kedinginan.

Kepala Negara yang adil,wahai Amirul Mukminin,adalah laksana seorang ayah yang arif-bijaksana terhadap anaknya, ia berbuat untuk kebahagiaan mereka, mengajarnya menjadi orang yang berguna; ia berusaha membanting tulang selama hidupnya untuk mereka dan meninggalkan peninggalan yang berharga buat mereka sesudah matinya.

Kepala Negara yang adil, wahai Amirul Mukminin, laksana seorang ibu yang berhati kasih, yang bersikap lemah-lembut kepada anaknya; ia mengandungnya dengan segala susah-payah. Ia mengasuhnya selagi kanak-kanak (bayi) dan matanya bertanggang sepanjang malam tak bisa tidur dengan tak bisa tidurnya anaknya itu; dan tenang-lega perasaannya dengan tenangnya anaknya. Ia susukan anaknya itu dikalah membutuhkan, dan ia hentikan (sapihkan) bila masanya telah tiba. Ia bergembira-ria dengan sehat-afiatnya puteranya itu dan sebaliknya berduka-hati jika anaknya sakit.

Kepala Negara yang adil,wahai Amirul Mukminin, adalah menjadi pelindung anak-yatim dan bendaharawan bagi kaum fakir-miskin. Ia mendidik-mengasuh mereka di kala kecil dan menjadi pelindungnya di kala ia besar.

Kepala Negara yang adil, wahai Amirul Mukminin, penaka jantung-hati yang terletak di antara tulang-tulang iga, ia menjadi baik dengan baiknya hati dan ia menjadi rusak dengan rusaknya hati itu.

Kepala Negara yang adil,wahai Amirul Mukminin, ialah orang yang berdiri di antara Allah dan para hambaNya. Ia mendengarkan firman Allah dan kemudian menyampaikannya kepada mereka; ia memandang kepada Allah dan kemudian ia memandang pula kepada para hambaNya itu; ia patuh kepada Allah dan kemudian mengajak pula mereka itu supaya mematuhi perintah-perintahNya.

Dari itu, wahai Amirul Mukminin, dalam segala apa yang dikuasakan Allah kepada Engkau, janganlah sekali-kali berlaku bagaikan seorang budak yang telah diberi amanah-kepercayaan oleh Tuan-majikannya untuk menjaga harta-benda dan keluarganya, tetapi ia khianat berbuat sewenang-wenang terhadap harta-benda itu dan menelantarkan kaum keluarga majikannya itu sehingga tinggal menjadi miskin dan harta-benda itu menjadi hancur-musnah berantakan sama sekali.

Ketahuilah, wahai Amirul Mukminin, bahwa sesungguhnya Allah SWT, telah menurunkan peraturan-peraturan yang mengandung ancaman yang berat (Hudud) agar dengan itu orang menjauhkan diri dari skandal dan tindakan kejahatan.Tetapi bagaimana apabila yang melanggarnya orang yang seharusnya membelanya? Bahwa Allah SWT,telah menjadikan hukum kisas sebagai jaminan kehidupan bagi para hambaNya, tetapi bagaimana apabila yang menjadi pembunuh mereka itu orang yang seharusnya dituntut menjalankannya?

Wahai Amirul Mukminin, ingatlah senantiasa akan maut dan apa yang akan terjadi sesudah maut itu sedangkan para pengikut dan pembelamu dihadapannya adalah sedikit. Maka dari itu persiapkanlah perbekalanmu menghadapinya dan apa yang terjadi kemudiannya berupa; kerisauan yang besar.

Ketahuilah, wahai Amirul Mukminin, bahwa bagi engkau telah tersedia tempat tinggal yang lain dari rumah yang engkau tempati kini; yang engkau terbangun padanya sepanjang waktu tak bisa tidur, sedang kekasihmu menjauhkan diri dari padamu; mereka menyerahkan engkau pada tempat yang paling bawah seorang diri tak ada teman. Maka dari itu, siapkanlah perbekalan sejak kini yang kelak akan menemani engkau.

” Ingatlah pada hari dimana manusia melarikan diri dari saudaranya, ibunya dan bapaknya, dari pada isteri dan anak-anaknya.” (Al-Quran,Surat ‘Abasa ayat 34-36).

Wahai Amirul Mukminin, ingatlah:

“Apabila dibongkar isi kubur dan dijelaskan apa yang tersimpan didalam dada.” (Surat Al-‘Diyat 9-10). Maka segala rahasia akan terbongkar-nyata, sedang Kitab catatan laporan amalpun menerangkan: “Tidak ada yang kecil maupun yang besar melainkan semuanya itu tercatat di dalamnya.” (Surat Al-Kahfi ayat 49).

Maka sekarang, wahai Amirul Mukminin, tampillah kedepan berbuat kebajikan sebelum ajal datang dan sebelum terputus segala cita-cita !

Janganlah engkau menghukum, wahai Amirul Mukminin, terhadap hamba Allah dengan hukum orang-orang jahil, dan janganlah bawa mereka itu melalui jalannya orang-orang zalim; janganlah engkau beri kesempatan orang-orang yang sombong berkuasa terhadap kaum yang lemah, karena mereka itu tidak mempedulikan perjanjian maupun kekeluargaan terhadap diri orang yang beriman; kalau begitu engkau akan menanggung dosa dan dosa orang yang beserta engkau, dan akan memikul beban dan beban orang-orang yang turut bertanggung jawab bersama engkau.Dan janganlah engkau sampai terpedaya oleh orang-orang yang mempergunakan kesempatan di atas kesempitan engkau, dan mereka memakan yang enak-enak dengan melenyapkan kebajikan pada hari akhirat.

Janganlah engkau pandang kepada kedudukan engkau hari ini, tetapi pandanglah kepada kedudukan engkau esok dimana engkau terbelenggu dalam cengkeraman maut, dan kemudian berdiri di hadapan Allah di tengah kelompok para Malaikat, para Nabi dan Rasul-Rasul;dan:

“Sungguh akan tunduklah segala wajah di hadapan Tuhan Yang Maha Hidup yang berdiri dengan sendiriNya”.(Al-Quran Surat Thaha ayat 111).

Sesungguhnya Aku, wahai Amirul Mukminin, sekalipun aku menyampaikan nasehat-pengajaranku tidak sebaik apa yang telah disampaikan cendekiawan-cendekiawan sebelumku, namun aku tidak kalah sayang dan cintanya yang tulus terhadap engkau.Maka saya menempatkan suratku padamu laksana orang yang memberi obat kepada kekasihnya; dia tuangkan obat yang pahit karena mengharapkan obat yang demikian itu akan membawa harapan sehat dan afiat!
Selamat atasmu, wahai Amirul Mukminin, dan rahmat Allah serta berkahNya ! (As-Saiyit,’Anashirul Quwwah fil Islam,hal 154-156).

Surat ini ditulis oleh Hasan Basri (wafat tahun 110 H),Beliau adalah seorang Ulama Besar kaum Salaf seorang Tokoh yang menonjol pada zamannya karena sangat alim dan wara’ serta zuhudnya Beliau, guru dari segala guru di negeri Basrah (Syeikhul-Masyahikh).Surat ini Beliau kirim kepada Khalifah Umar bin Abd.Aziz (wafat tahun 101 H), saat Khalifah Umar bin Abd.Aziz baru terpilih menjadi Khalifah Rasyidin yang kelima.

Sumber tulisan,buku: “Detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah” Oleh KH.Firdaus A.N,hal 91-94.Semoga tulisan ini akan menambah amal jariyah bagi Tokoh-Tokoh tesebut diatas,dan Tokoh-Tokoh yang terlibat langsung maupun tidak langsung, sehingga naskah kuno ini bisa tersaji dihadapan Anda dimanapun Anda berada saat ini.Wallahu’alam..Semoga bisa diambil hikmanya.Amin.  Kembali ke hal atas  blog? >>

@ Surat (message) dari Zaman Berbeda Untuk para Pemimpin Zaman Berbeda ( 110 H – 1430 H / Naskah Kuno ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: