Posts Tagged ‘Curhat’

Esensi Rahmatan Lil Alamin.

April 18, 2011

Para Pencari-Mu,Ya Allah.

“Rahmat bagi seluruh Alam”..ketika kita bicara tentang Rahmatan Lil Alamin, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk mencontoh perilaku “Sang Al-Qur’an Berjalan”, yaitu Baginda Rasulullah S.A.W.

Islam adalah rahmat (kebaikan) untuk seluruh alam. Ketika subtansi Islam sudah terpatri dalam sanubari seorang Muslim, maka sungguh perilakunya akan terlihat. Ketika dia sedang mencabut sehelai rumput, maka dia akan berdo’a “Ya Allah, rumput ini juga bernyawa, maka maafkan hamba-Mu ini, saya kembalikan nyawa rumput ini kepada-Mu ya Allah, karena sesungguhnya rumput ini juga bertasbih dan bertahmid kepada-Mu. Dan sesungguhnya rumput ini “ada” melainkan hanya karena kehendak-Mu.

Ketika dia akan menyembeli seekor hewan, dia juga akan berdoa mengikuti aturan yang sudah diajarkan Islam. Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam, dalam terminologi di atas marilah kita tarik ke subtansi yang lebih luas, bagaimana Islam memandang mahkluk lain sebagai sesama manusia di luar lingkaran Islam?.. bagaimana dengan subtansi “hablumminanaas?”.. sebagai sesama manusia apakah kita diberi “otoritas” oleh Allah SWT untuk membunuh, menganggap diri kita yang paling benar dari pihak lain?..

Sesungguhnya siapapun diantara kita yang mengaku dirinya atau kelompoknya yang paling benar, maka sesungguhnya dialah yang justru “yang tidak benar”. Hmm..maka neraka jahanamlah bagi orang-orang yang mati karena merasa, dia yang paling benar hingga relah membunuh, membombardir manusia-manusia lain disekelilingnya,yang belum tentu bersalah. Seperti yang dilakukan “penebar teror” di Masjid Mapolres Cirebon. Naudzu billah himinzalik..

Suatu ketika Rasulullah S.A.W pernah membesuk (mengujungi) seorang yang beragama Yahudi,yang sedang sakit. Padahal seorang Yahudi ini, selalu meludahi Rasulullah S.A.W ketika beliau melewati rumah “orang Yahudi ini” saat pergi atau pulang dari shalat berjamaah di masjid. Subhanallah.. beginilah tipikal “Rahmatan Lil Alamin” yang dicontohkan Rasulullah S.A.W kepada kita sebagai umatnya.

Ya Allah, miris rasanya melihat pelaku bom bunuh diri itu berjubah bahkan mengaku melakukan Jihad dan membunuhi orang-orang yang justru sedang berdiri dalam syaf yang siap berdiri, ruku’ dan syujud dihadapan-Mu ya Allah.

Hmm..kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para ulama terdahulu, seperti misalnya sebut saja Rabi’atul Al Adawiyah dll, tetapi kita harus bisa meletakkan para “ulama ini” pada proporsi yang sebenarnya, bahwa sesungguhnya mereka juga hanya berusaha memaknai Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W. Jadi kenapa kita harus membuat mereka menjadi Imam kita? panutan kita? bukankah Imam kita hanyalah Rasulullah S.A.W ?..wahai “saudara-saudaraku” kembalilah kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W,agar perbedaan pemahaman (idiologi) diantara kita bisa di minimalisir. Agar dinul Islam bisa tegak berdiri.

Rahmatan Lil Alamin, menjadi jaminan bahwa siapapun, agama apapun,ras apapun, suku apapun akan merasa aman dan damai hidup berdampingan dengan kita, dan disinilah esensi Islam yang sebenarnya. Walahu’alam bisyawab, bagi para ulama mohon saya diberi penjelasan jika sekiranya saya salah, terima kasih.  =>

Tsunami Jepang Dan Pelajaran di Baliknya.

Maret 15, 2011

Tsunaminya 'istana' Negeriku.

Ketika bicara tentang gempa dan tsunami, tentu saja Jepang menjadi rujukan yang paling tepat. Letak georafis Negeri Sakura ini, yang memang sangat rentan dengan gempa, membuat Bangsa ini seperti ditempah oleh alam, membuat mereka menjadi sangat tangguh, ulet, tabah, disiplin, juga jika dilihat dari sumber daya alam yang minim, membuat bangsa Jepang bekerja ekstra keras, kreatif dan inovatif, hingga mereka mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia. “Turut sedih, prihatin dan berduka cita atas musibah gempa dan tsunami yang melanda Jepang”.

Dari balik musibah ini satu hal yang pasti, bahwa memang tidak ada yang pasti dikolong langit ini. Seperti pengakuan para ahli gempa dan tsunami Jepang, bahwa “waktu” terjadinya gempa dan tsunami tidak bisa diprediksi. Mereka hanya bisa menganalogikan, seperti “menekuk ranting cemara”, mereka tahu ranting itu akan patah tetapi kapan waktu (terjadi) patahan itu dan kealur mana retakan patahan itu mengarah, ini yang tidak bisa dipastikan.

Dari analogi itu bisa diambil kesimpulan bahwa secanggih apapun teknologi yang di miliki manusia, tapi  tetap saja tidak mampu menjawab wilayah ” ( tak terhingga)”. Artinya memang ada area di semesta ini, yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu manusia.Yang jika dalam Islam ini dinamakan area “gaib” areanya pemilik bumi itu sendiri.

Jadi yang bisa kita lakukan adalah hanya berusaha menjaga alam, bersatu dengan seluruh penduduk bumi, untuk melestarikan alam  dan sumber dayanya. Karena suka atau tidak,  kita (manusia) hanya merupakan menghuni satu kolong langit yaitu yang kita namakan bumi. Kita diijinkan untuk mengelolah sumber bumi untuk kemaslahatan manusia, seperti misal tanah, air, udara, gas, nuklir dan sebagainya.

Tetapi bagaimana dengan pengelolaan sumber alam yang berbiyaya tinggi dan beresiko besar, seperti nuklir kalau tidak dikelolah yang bukan ahlinya? dalam soal nuklir kita semua sudah tahu bagaimana efek baiknya untuk hajat hidup manusia, tetapi sebelum kesitu tentu saja kita juga harus berhitung tentang kemungkinan resiko yang akan timbul jika terjadi salah pengelolaan.

Seperti kebocoran nuklir yang mengancam Jepang saat ini, adalah diluar kontrol manusia, karena memang disebabkan oleh alam. Disini terlihat pergumulan ilmu manusia untuk menaklukan alam. Sebagai sesama penduduk bumi, tentu saja kita semua berharap agar Pemerintah Jepang dan Para Ahlinya mampu mengatasi ini, agar kita tidak melihat kepunahan manusia. (Semoga itu tidak terjadi) Naudzu billah himinzalik..

Untuk itu yang bisa kita lakukan adalah berusaha memotivasi Para Ahli Nuklir Jepang dan Dunia untuk tetap tenang dan tidak gegabah dalam berusaha menangani “pemanasan reaktor nuklir itu”. Para ahli Jepang mengatakan, bahwa mereka sedang berusaha menyuntikan air kedalam reaktor inti nuklir itu, agar tidak terjadi pemanasan. Dan ini meraka lakukan diluar “buku petunjuk”. Artinya bahwa memang ancaman kebocoran nuklir di Jepang ini, sudah pada tahap menghawatirkan dan cara penanganannya belum pernah dilakukan sebelumnya. Untuk itu kalau para ahli Jepang itu sedang berusaha mendinginkan ‘inti reaktor nuklir’ maka sebagai sesama penduduk bumi, yang bisa kita lakukan adalah berusaha mendinginkan kepala para ahli jepang itu, agar mereka tetap tenang, tidak panik dan sambil mempergitungkan langkah-langkah efakuasi untuk warga Jepang, jika kemungkinan hal-hal buruk terjadi.

Kata Rasulullah S.A.W, “serahkan pekerjaan kepada ahlinya”. Dan Jepang dalam hal ini sangat ahli. Dalam pengelolaan birokrasi (Pemerintahan) atau management nuklir, Jepang dikenal sangat disiplin, mereka tidak akan mau melakukan kesalahan sekecil apapun yang mereka sadari, termasuk (terlebih) korupsi yang menjadi salah satu penentu keberhasilan mereka, mereka akan sangat malu jika meraka korupsi dan (mohon maaf, ini sangat kontras dengan perilaku para elit negeri ini).

Di negeri ini, ketika wikileaks (misalnya) membocorkan rahasia Negara lain, para elit kita ikut tertawa dan menganggap itu sebuah kebenaran. Tetapi jika kemudian wikileaks membuka kebohongan petinggi kita, para elit kita beramai-ramai mengatakan bahwa itu tidak valid. Kalau para ahli Jepang berlomba-lomba membangun tembok penanggulangan tsunami (air bah di permukaan laut), nah kalau di negeri kita, para elit sangat ahli membangun “tembok” menahan gempuran tsunami wikileaks, Inna lillahi wa’inna ilaihi raji’un. Alangkah Lucunya Negeriku. Astagfirullah hal adzim.. =>

Ho oh..ya oh..ya oh..ya Bongkar!

Februari 22, 2011

ambo sedang tafakur.

Sebagai manusia biasa, tentu saja kita tidak lepas dari rasa frustasi, dari rasa sesal, dari rasa marah, dan berbagai perasaan yang tidak enak yang mendera pikiran dan hati kita. Sementara kita tidak tahu harus marah kepada siapa, karena memang situasi dan kondisilah yang membuat kita marah..

Sebagai manusia, sisi ini pasti pernah mendatangi siapa saja, kecuali manusia-manusia setingkat Nabi, tetapi sebagai manusia yang ‘beradab’, kita juga dituntut harus mampu me-manage amarah kita, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memanage amarah kita, di antaranya yang biasanya suka dilakukan oleh para penyuka ‘art’, yaitu mendatangi pantai yang sepi di malam hari, terus berteriak-teriak sekencang mungkin (tapi pastikan ini, agar tidak ada orang yang terusik) terus kemudian berdiam diri, bersemedi, melakukan tafakur merenungi kesalahan-kesalahan kita sendiri,disarankan untuk merenungi kesalahan diri sendiri, agar rasa marah kita pada orang lain (kalau ada) akan berbalik menjadi pemaafan. Tetapi cara ini, tidak disarankan untuk para perempuan, karena berdiam diri ditempat sepi sendirian, bisa jadi akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri.

Cara lain yang lebih gampang untuk melepaskan amarah, bisa dilakukan dengan bernyanyi sambil jingrak-jingkrak di kamar tidur kita sendiri, atau di dalam mobil sendiri sambil menyetel musik sesuka hati (saat terjebak macet di jalanan misalnya) ini akan sangat di membantu melepaskan amarah, tetapi juga disarankan jangan melakukan proses pelepasan amarah ini, saat (nyetir) mobil yang sedang melaju di jalan tol, sebab bisa saja gantian mobil anda yang marah, dan kalau ini yang terjadi jungkir balik lah mobil anda 🙂 dan itu artinya ‘innalillahi wa’inna i’laihi raji’un..’.

Musik melepas kemarahan seperti yang di lakukan oleh bang Iwan Fals, yang di beri judul BONGKAR. Dalam situasi ketidak pastian sosial politik misalnya, dan hari ini kebetulan saya sendiri juga sedang mengalami mood yang tak sedap, makanya saya hanya memainkan jemari diatas tuts keyboard ini sesuka hati, mengikuti irama musik..

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Penindasan serta kesewenang wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Dijalanan kami sandarkan cita cita
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar  ==>

Gaji Pejabat dan Kepekaan Nurani politik.

Januari 27, 2011

Sadarlah Wahai Pemerintah.

Menurut Guru Besar Ilmu Politik UI Maswadi Rauf, langkah pemerintah yang akan menaikan gaji 8.000 pejabat merupakan blunder. Maswadi kurang lebih menyatakan, Pak Yudhoyono mengeluh soal gaji, para menterinya langsung bertindak. Akan tetapi, kalau yang mengeluhkannya PNS dan guru honorer, tidak ada respon dari para menteri.

Wacana kenaikan gaji pejabat lebih banyak mempertontonkan ketidak adilan dan tidak mencerminkan kepekaan nurani politik para pejabat negara di tengah rakyatnya yang menderita. Bukankah selama ini pejabat negara selain memperoleh gaji, juga memperoleh berbagai tunjangan dan fasilitas negara?

Kenaikan gaji pejabat ditilik dari sisi waktu, juga tidak tepat. Ditengah bangsa ini didera berbagai kasus mafia yang diduga melibatkan para mafia di lingkungan pajak dan ‘oknum’ penegak hukum, skandal bank Century dan berbagai kasus lainnya, pemerintah malah berpikir dirinya sendiri, alih-alih memikirkan rakyat, pemerintah justru menjadi egois.

Wacana kenaikan gaji ini mengemuka ketika Presiden Yudhoyono menyatakan sudah 7 tahun tidak gaji. Selama ini, Presiden menerima gaji Rp 62 juta perbulan, dana taktis 2 milyar perbulan, serta berbagai fasilitas negara lainnya. (more…)

Subtansi Zikir.

September 6, 2009

Sungai dan Mentari Pagi.

Sungai dan Mentari Pagi.

  Pada setiap bulan Ramadhan, seperti biasanya Umat Islam diseluruh dunia, berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Tuhan Seru Sekalian Alam.Sebagai bentuk kepasrahan dan pengambdian kepada Sang Khalik. Salah satu bentuk pendekatan diri ini berupa memperbanyak zikir kepada Allah S.W.T.

   Selepas subuh disalah satu hari pada bulan Ramadhan 1430 H ini, kebetulan saya diberi kesempatan berjalan-jalan dan melihat keindahan alam ditepian sungai ini disaat mentari pagi mulai menampakkan dirinya diufuk timur.

   Dan seperti biasa subtansi zikir mulai berkelabat dipikiran ini,Ya Allah ya Rabb betapa berilmunya Engkau Ya Rabb,jika seluruh air dilautan dan sungai-sungai di seluruh permukaan bumi ini dikumpulkan dan dijadikan tinta untuk menulis semua ilmu-Mu maka tinta itu tidak cukup untuk menulis banyaknya ilmu-Mu, padahal ilmu yang Engkau bagikan kepada manusia hanya ibarat setetes tinta yang jatuh diatas kertas putih.Maka apakah pantas manusia berlaku sombong padaMu?..

   Ya Allah cinta dan kasihMu kepada seluruh mahluk begitu sejuk dan dalam laksana dalamnya lautan,bahkan tidak terhingga laksana memandang tepian langit ditengah lautan. Padahal lututku sudah terasa gemetar walau hanya sekedar memandang kesejukan dan ketenangan serta misteri dalam kedalaman air sungai ini, maka pantaskah saya menjadi sombong pada-Mu?Astagfirullah hal adzim..

   Ya Allah janji-Mu pasti, laksana pastinya terbitnya mentari disetiap pagi hari,Ya Allah bagaimana jadinya kalau janji-Mu tidak pasti? apakah saya masih bisa melihat mentari dipagi hari ini?..bagaimana jadinya kalau saya tidak lagi menemukan mentari di pagi ini? Astagfirullah hal adzim..itu artinya kiamat bagiku.

   Ya Allah kasih sayang-Mu begitu indah laksana indahnya hamparan awan.Ya Allah bagaimana jadinya kalau awan itu tidak bergerak sesuai kehendak-Mu? apakah akan terjadi butiran air dari awan itu? apakah burung-burung bisa beterbangan? apakah manusia bisa melihat serpihan awan dari atasnya tanpa izin-Mu?

   Ya Allah pohon-pohon nyiur itu terlihat begitu cantik..laksana gadis cantik lagi sholeha (ups..lagi puasa ding 🙂 ) Astagfirullah hal adzim..Ya Allah bagaimana jadinya kalau Engkau tidak menjadikan keindahan dan kecantikan?  betapa hambarnya hidup ini. Subhanallah wal hamdulillah..

   Ya Allah bagaimana jadinya kalau keindahan bumi-Mu ini tidak bisa kami pertahankan? apakah sanggahan para malaikat bahwa manusia hanya akan membuat kerusakan di atas bumi-Mu ini akan jadi nyata? Ya Allah..Engkau Maha Mengetahui, hanya pada-Mu-lah kami berserah diri.

   Hmm..”Allah menciptakan wajah (bumi) dan manusialah yang menciptakan ekspresinya (kerusakannya)”. Ya Allah,apakah segala macam bencana yang terjadi di Negeri ini adalah akibat dari ekpresi kami? hingga bencana gempa Nabire,Jogjakarta,Padang,Sanger Talaud hingga Tasikmalaya tidak bisa kami elakkan?

   Ya Allah, bagaimana pula dengan tsunami, kebakaran hutan, angin puting beliung, kecelakaan pesawat, hingga semburan lumpur di Porong? Apakah ini wujud teguran-Mu yang selalu memperingatkan manusia akan kesombongan-kesombongannya? Ya Allah,sesungguhnya kami hanya manusia yang lemah, yang berjalan dengan membusungkan dada dalam kealpaannya.

   Ya Allah, apakah semua musibah ini adalah buah dari kesabaran dari para yatim piatu, orang-orang terlantar, anak-anak jalanan, para jompo, para TKI/TKW, para buruh, orang-orang miskin yang hak-haknya terabaikan? Astagafirullah hal adzim..ya Allah berilah kami kemampuan untuk meng-instropeksi diri kami, agar kami mampu memperbaiki kesalahan-kesalan kami. Sebab bukankah Engkau selalu bersama orang-orang yang teraniaya?

   Ya Allah berilah kami kemampuan untuk bisa lebih memperindah bumi-Mu ini, agar kami lebih bisa mewujudkan bentuk syukur kami secara lebih nyata. Ya Allah jadikan para korban gempa Tasikmalaya yang meninggal di bulan suci ini, menjadi syahid dijalan-Mu. Ya Allah berilah kami kemampuan untuk lebih bisa memaknai bulan suci Ramadhan ini. Amin ya Rabbul alamiin..