Posts Tagged ‘Indonesia’

FYI..

Oktober 9, 2011

Damai untuk fikiran yang membangun.

Hallo teman-teman blogger (all, castlerockattorney.com.etc) hari ini saya memeriksa komentar anda semua diblog saya, mohon maaf saya masih menahan sekitar 400 komentar berbahasa Inggeris yang belum sempat saya approve, blog sederhana itu ini berisi “tentang kehidupan” yang saya tulis dari pemikiran saya sendiri dan dari sumber yang saya anggap kapabel dibidangnya, saya tidak menduga kalau blog sederhana berbahasa “prokem” itu ini (maaf,maksud saya bukan bahasa Indonesia yang disempurnakan), dibaca orang-orang dari benua Eropa,Amerika,Afrika dsb, meski memang awalnya saya menggunakan “keyword” yang menembak gedung putih (dimasa pemerintahan George W.Bush), dan saya sudah merencanakan (atas pertolongan Allah) agar siapapun yang membaca (men-translate) akan berbalik menjadi men-suport saya,dan hal itu Alhamdulillah benar-benar terjadi, awalnya saya dibuntuti Google, bahkan CIA dan FBI kemudian Cyber Crime dan BIN di Indonesia, kemudian saya juga menduga bahkan para pelaku terorisme juga mengikuti blog itu ini.

Mohon maaf teman-teman, saya hanya mamusia biasa yang tentu saja punya banyak keterbatasan, tidak mungkin saya bisa mendatangi anda satu-persatu, dan maaf saya sudah komit bahwa saya akan tetap menggunakan Bahasa Indonesia dalam tulisan-tulisan saya melalui internet, karena bertujuan memperkenalkan Bahasa Indonesia ke seluruh Dunia dan membantu teman-teman orang Indonesia maupun orang-orang yang bisa berbahasa Indonesia di Luar Negeri agar bisa lebih dibutuhkan dalam proses translate.

Saya tidak mengerti bagaimana saya harus menyampaikan rasa terima kasih saya atas dukungan dan suport anda semua, tetapi saya percaya mesin pencari google,wordpress dan facebook.com bisa melakukannya untuk saya dan anda. Sekali lagi terima kasih, semoga dunia menjadi lebih damai dan kita semua lebih bisa saling berbagi inspirasi “dalam kebaikan” meski dalam bahasa yang berbeda sekalipun. Amin.. my facebook.

Perubahan Kearah Yang lebih Baik (Opini).

September 18, 2011

Filosofi Perubahan.

Mungkin saja perubahan dalam banyak paradigma, hanya berlaku pada sistem ketatanegaraan seperti banyak kejadian yang kita saksikan saat ini. Perubahan dalam tatanan politik misalnya, bermula dari bertiupnya angin kencang perubahan yang ditiupkan oleh Presiden Barack Obama, dalam kampanye beliau di Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Kemudian perubahan menjadi jualan yang menarik, hingga kemudian berpengaruh pada tatanan politik di semenanjung Arab. Seperti di Tunisia, Mesir dan Libya hingga juga bergemah di Suria,Yaman dan beberapa negara Arab termasuk juga tidak menutup kemungkinan akan merambah eskalasi politik di Israel. Hal itu tidak tertutup kemungkinan, mengingat perubahan juga terdengar gaungnya di Eropa. Seperti demo besar-besaran yang terjadi di Yunani dan Inggris belum lama ini.

Disatu sisi perubahan menjadi semacam angin segar, tetapi disisi lain perubahan justru menjadi seperti mesin penentang kemapanan (terlepas dari bentuk apapun kamapanan itu). Indonesia misalnya, kemapanan Orde Baru masih sangat kental terasa dalam tatanan politik meski sudah dikemas dalam bentuk kemasan Reformasi agar lebih terkesan merakyat.

Kita semua tahu,perubahan yang radikal dalam tatanan politik dinegeri ini, terjadi pada saat lengsernya Presiden Soeharto tahun 1998 lalu. Tetapi sangat disayangkan perubahan itu tidak diikuti oleh visi dan misi yang mengarahkan negeri ini kearah yang mestinya dikehendaki oleh UUD 1945, yaitu “menuju masyarakat yang adil dan makmur”.

Perubahan di negeri kita terasa seperti menentang kemapanan, ironisnya kemapanan itu adalah akumulasi kemapanan yang justru terbentuk sejak orde baru, yang hingga saat ini masih sangat terasa begitu kuat membelenggu paradigma berpikir sebagian elit politik kita. Harus diakui meski hanya tinggal sedikit (pembelah kemapanan ini) tetapi mereka justru berada dilingkaran elit, mereka berkuasa dan mempunyai kekuatan finansial yang cukup kuat.

Sayangnya para pengusung perubahan (kearah lebih baik/ sesuai amanah UUD 1945) yang ironisnya mengaku berjiwa reformis justru menjadi seperti tidak bernyali, trauma yang menyertai keruntuhan rezim orde baru, yang justru ditiupkan oleh para pendukung kemapanan orde baru yang sebetulnya masih menguasai Parlemen dan Eksekutif, menjadi momok yang menakutkan para reformis (para pendukung perubahan). (more…)

Makna Idul Fitri 1432 H di Kaki Katulistiwa.

Agustus 31, 2011

Idul Fitri 1432 H, 1(atau 2) Syawal 1432 H.30 (atau 31) Agustus 2011 M baru saja dirayakan, terlepas dari apapun kontroversi yang menyertainya, dengan hati yang bersih dan fikiran jernih marilah kita semua melihat dari sisi manfaat atau hikmah yang terkandung dari pelajaran yang Insya Allah, Allah berikan dibalik perayaan Idul Fitri ini kepada kita semua sebagai bangsa, hari ini dan jauh kedepan.

Perayaan Idul Fitri dari perspektif Pancasila, adalah sama dengan perayaan hari-hari besar keagamaan lainya di negeri yang terletak dibawah Katulistiwa ini. Idul Fitri di jamin oleh Pancasila, tetapi resistensi yang menyertainya tentu saja di serahkan oleh Pancasila kepada pemeluk agama masing-masing yang merayakan hari raya tersebut sesuai keyakinan pemeluknya.Intinya Pancasila tidak bisa serta merta ikut campur tangan atas resistensi tersebut, karena Pancasila hanya bersifat pengayom dan bukan pelaksana terhadap permasalahan (teknis) yang terjadi dalam pelaksanaan hari-hari besar keagaman dinegeri ini, jika terjadi kesalahan teknis dalam suatu perayaan agama, supaya jangan dibenturkan dengan Pancasila. Perbedaan dalam perspektif Pancasila adalah perbedaan dalam hal lintas agama, jadi bukan perbedaan dalam satu kegiatan teknis keagaaman,dalam satu agama tertentu.

Kembali ketopik diatas, pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1432 H, yang suka atau tidak, sejarah mencatat seperti yang tertulis diparagraf pertama alinea pertama dalam goresan ini.
Alhamdulillah meski demikian tetapi akhirnya berjalan damai,aman dan terkendali, seperti yang diharapkan semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung didalamnya.

Penulisan perayaan Idul Fitri seperti di atas seperti kita ketahui bersama sudah terjadi beberapa kali dalam periode tahun-tahun terakhir sampai pada Agustus 2011 M,diharapkan agar ini tidak terjadi ditahun-tahun mendatang. Penulisan ini harus diambil agar “negeri di kaki Katulistwa” ini tidak tercatat sebagai negeri pembuat/pelaksana teknis perayaan hari besar keagaman, yang mengkoreksi penanggalan tahun Hijriyah dan Masehi yang telah disepakati Dunia.

Sebab baru tercatat pertama kali dalam sejarah Dunia, penghitungan waktu yang berpangkal dari titik yang sama, terjadi selisih waktu 24 jam dititik yang sama,pada perayaan hari besar yang mestinya sama. Ironi ini uniknya mendapat persetujuan pengambil kebijakan yang sejatinya terlibat langsung, bak serial Upin Ipin “betul..betul..betul” (sambil manggut-manggut).

Dari perspektif Demokrasi tentu saja ironi ini tidak menjadi masalah, tetapi dari perspektif sejarah, ilmu pengetahuan dan Islam sendiri sebagai pelaksana perayaan tersebut,ironi ini patut dipertanyakan, mengingat Islam mengajarkan bahwa berpuasa (shaum) pada tanggal 1 Syawal (Idul Fitri) tidak dibenarkan (haram),sebagai penghormatan kepada perayaan hari yang Fitri tersebut. (more…)

Jangan Biarkan Ibu Pertiwi Terus Menangis..

Agustus 21, 2011

Melihat berbagai sandiwara politik akhir-akhir ini sampai pada kasus Nazaruddin, sebetulnya sudah bisa ditarik kesimpulan umum, Nyanyian Nazaruddin tidak sepenuhnya salah, Nazaruddin tidak juga bersih, bahkah bisa saja Nazaruddin adalah seorang yang bermain dalam lingkaran setan koruptor di negeri ini.

Nyanyian Nazaruddin bahwa pengungkapan kasus ini akan membahayakan Negara juga tidak sepenuhnya salah, saya percaya Pak Oce Kaligis dan semua elit politik bisa menangkap apa yang saya maksudkan. Maaf, kasus seperti ini tidak hanya menyangkut perorangan,satu kelompok tetapi saling berkaitan, artinya memang ada yang berjalan salah dalam sistem negara kita, kalau boleh saya sebutkan bisa saja Perundang-Undangan tentang dana kampanye dan sistem pendanaan partai.Semoga ini bisa menjadi catatan khusus DPR, ehemm saya yakin DPR sangat mengerti yang saya maksud. Karena secara ikhlas saya sebutkan 🙂 bahwa disinilah pangkal kesalahan itu terjadi.

Dalam pengungkapan kasus korupsi yang menjadi ketakutan bukan hanya Nazaruddin seorang, tetapi banyak elit bahkan KPK sendiri, jujur sampai pada tingkat ini sayapun menjadi ketakutan sendiri.Dan saya yakin ketakutan ini juga menghinggapi para elit politik yang bisa menangkap subtansi ini.

Pemberantsan korupsi di negeri ini tidak cukup hanya ditugaskan kepada aparat hukum, tetapi harus dipimpin langsung oleh seorang presiden. Dalam pemberantasan korupsi harus ada revolusi, dan revolusi itu dipimpin langsung oleh presiden sendiri, apapun resikonya kecuali kalau kita memilih untuk membiarkan negeri ini berjalan seperti tanpa arah yang jelas,ironi memang negara berjalan seperti tanpa dimanage tetapi mafia justru sangat terorganisir.

Masalahnya alat pengungkap korupsi(mafia) yang dibangun seperti satgas dsb justru membuat pengungkapan menjadi tumpang tindih, hingga membuat kerja aparat penegak hukum menjadi tidak maksimal.Penggunaan anti virus dalam sebuah komputer bisa di jadikan analogi, jika menggunakan lebih dari satu anti virus dalam sebuah komputer, justru kerja anti virus tidak maksimal, karena anti virus satunya menganggap anti virus yang lain adalah virus, dan sebaliknya begitu, hingga virus yang sebenarnya justru tidak terdeteksi.

Mohon maaf, sampai pada penarikan kesimpulan ini meski tidak secara gamblang disebutkan, tetapi melihat pembicaraan pemberantasan korupsi saat ini, saya melihat ini hanya menjadi pekerjaan sia-sia, karena yang akhirnya terjadi adalah saling menyelamatkan.

Solusi (jangka panjang) yang paling dramatis (cepat) yang bisa diambil, (andai) pemilu 2014 bisa ditarik lebih cepat, maaf kalau menyebut “revolusi” kelihatannya banyak orang yang alergi. Jika mengambil solusi kompromi politik adalah “membuka pintu” calon presiden independent untuk kedepan, ini cara lain untuk memutus mata rantai korupsi. Sebab, jika boleh meminjam istilah reality shownya “mata najwa” MetroTV, bahwa jika memilih “calon pemimpin berpengalaman di negeri ini justru pengalaman itu adalah pengalaman dalam hal berkorupsi. Karena sesungguhnya korupsi di negeri ini sudah terjadi dalam tiga zaman”. Makanya jangan heran jika melihat perangai orang-orang yang terindikasi korusi justru terlihat “pede-pede aja lagi” 🙂 karena masing-masing punya senjata pamungkas 🙂 ..yang memprihatinkan adalah Ibu Pertiwi tak kunjung Makmur, karena kepentingan negara justru menjadi terkesampingkan.

Jika masih mau berharap, maka harapan jangka pendek kita ada pada KPK, dengan catatan jika Pemimpin KPK segarang Calon Pemimpin KPK (Pak Bambang Widiyanto), itupun kalau beliau bisa konsisten dengan visi misi beliau, dan tentu saja jika Eksekutif dan Legislatif masih peduli dengan masa depan bangsa ini, dengan tidak mengganjal Pak Bambang Widiyanto menjadi ketua KPK periode mendatang. ***

Doa untuk negeri, ya Allah dengan keagungan asmah-Mu, dengan perantaraan safaat (kekasih) Rasulullah S.A.W, kami berlindung dengan asmah “Rahman dan Rahim-Mu” atas kemungkinan terburuk yang terjadi di negeri kami ini, sesungguhnya Engkau jualah yang Mengetahui apa-mengerti apa yang terjadi dibalik setiap kejadian di negeri ini, jika ada tersimpan kejelekan-kejelekan dibalik kejadian demi kejadian (tsunami,gempa dsb) maka buatlah kami mengerti,dan lindungilah kami dari malapetaka dan marah bahaya yang mengintai kami, untuk perbaikan negeri kami kedepan. Amin..==>>

Kasus Nazaruddin antiklimaks penegakkan hukum negeri ini.

Agustus 18, 2011

Sumber,ilustrasi gambar: utpa.edu

“Nyanyian” Nazaruddin berubah menjadi “lolongan”, (mohon maaf, kalau ini terdengar kasar). Ibarat kata pepata “seperti menolong anjing yang sedang kejepit,begitu jepitannya lepas anjing tsb justru berbalik menggigit sipenolong”.Beginilah komunikasi politik,lolongan Nazaruddin merupakan komunikasi politik, dan beginilah kelemahan komunikasi politik, semua orang bisa berperspektif dari paradigma masing-masing.

Lolongan Nazaruddin secara resmi ditujukan kepada Pak SBY, tetapi secara subtantif justru komunikasi ini ditujukan kepada publik. Dan pesan ini bermakna dua hal selain tujuan resminya.

Makna pertama: Nazaruddin ingin mengatakan ke publik bahwa Pak OC Kaligis (pengacaranya) benar.Dan makna kedua, Nazaruddin ingin mengatakan (maaf tepatnya memaki) para mantan koleganya, yang salah satu elitnya disebutkan Nazaruddin.

Sekali lagi mohon maaf, ini adalah preseden buruk buat Pak SBY, sekaligus buat negeri ini, mengingat Pak SBY juga menjabat sebagai presiden.

Kasus Nazaruddin ini akan berimplikasi buruk bagi Pak SBY dan negeri ini, terungkap atau tidak skenario yang bermain dibelakangnya.Dan Pak SBY harus berhati-hati menanggapi komunikasi politik Nazaruddin ini, sebab Nazaruddin seperti melepas senjata bumerang.

Kalau bisa memberi masukan untuk perbaikan citra Pak SBY dan Demokratnya, kasus ini mestinya diusut tuntas tanpa intervensi Pak SBY dan Demokrat, melalui KPK tetapi oknum KPKpun sudah terjadi conflict of interest terhadap Nazaruddin.Jadi jalan satu-satunya mempercepat proses pemilihan para pimpinan KPK secara kolektif dibawah kontrol DPR, dan mengganti para pimpinan KPK dengan para pemimpin baru, agar tingkat kepercayaan publik kepada KPK kembali pulih.

Sebab dalam kasus ini yang dipertaruhkan bukan hanya citra Pak SBY dan Demokrat, tetapi lebih luas juga citra penegakkan hukum di negeri ini.Jujur opini yang muncul, setelah “lolongan” Nazaruddin adalah bahwa penguasa negeri ini sangat diktator, dan kepercayaan publik dalam dan luar negeri terhadap pemerintahan negeri ini merosot tajam, indikasinya penolakan Interpol terhadap red notice-nya KPK untuk istri Nazaruddin.

Mohon maaf, beginilah jadinya kalau semuanya berjalan tidak transparan, dan ironisnya justru nama baik bangsa ikut tercoreng.Bagaimanapun saat ini kita sudah masuk di era teknologi informasi, dimana bumi dalam bentuk informasi telah menjadi satu kesatuan, informasi dikita saat ini akan ter-conect dengan cepat (dalam hitungan secon) dibelahan dunia lain.

Dalam hal ini menekan Nazaruddin menjadi sangat tidak bijaksana, sebab ini akan memancing kemarahan aktivis Hak Azasi Kemanusiaan Dunia, dan tentu saja akan berimplikasi pada empati publik terhadap Nazaruddin. Semoga opini ini bermanfaat.. to home page