Archive for the ‘umum’ Category

Peace diary….

Juli 3, 2013

Gambar Oktober 9,2011. Waw…. tanpa terasa hampir dua tahun, engkau tidak kusapa diariku. Maafkan aku diariku, seperti biasa aku membukamu saat aku ‘blank’…. seperti biasa kuikuti jari-jariku sesuka jariku, untuk goresan-goresan ini…. dan lagi-lagi, Kehampaan Pagi menyergapku….

Dan lagi-lagi diariku, blank….
hingga aku hanya bisa menggoreskan catatan usang setahun yang lalu….

Kehampaan pagi.

Oh..pagiku yang kosong
pagiku yang hampa
pagiku yang mati rasa

oh..God,blank..
pagi ini enggak ngerti harus
aku isi dengan apa..

 push up,…. up,semedi..
kujalari rongga-rongga dadaku
kukembalikan energi dalam tubuh
kubangkitkan semangatku

 kutatap cermin..
jiwa ini mendesis..
lama sudah kuabaikan kamu kawan..

 lagi-lagi sosok dibalik cermin itu
menanggapi senyumku dengan dingin..

 oh..segitu sakitkah
engkau kawan,hingga auramu
seakan pudar..

 oh tidak aku bukan seorang fotogenik
senyum sombongmu menyeringai dingin..

 maafkan aku kawan,sudah lama aku
tidak memberimu asupan energi..

 sambutlah kehampaan pagimu
setidaknya dengan senyum..

 biarkan pikiran positif mengalir
dalam tubuhmu, gunakan kekuatan
pikiranmu mengembalikan kesegaranmu..

 oh..tidak jangan engkau mendengus
kecut kawan..
kembalikkan semangat hidupmu..
dipundakmu masih banyak
agenda yang harus engkau kejar..

 jangan biarkan sekelilingmu
menghancurkan semangatmu.

 karena sesungguhnya mereka
hanya tidak mengerti apa
yang ada dalam pikiranmu.

ayo kawan kembalikan
keceriaanmu, sambutlah pagi
dengan senyum, agar dunia
ikut senyum bersamamu

 basahi wajahmu dengan wudhu..
tengadakan tanganmu..

 lantunkan jeritmu hanya
kepada-Nya,sebagaimana
yang sering engkau lakukan

 ayo kawan hiasi waktu dhuhamu
dengan ruku dan sujud
dengan sepenuh jiwa ragamu
moga kehampaan pagimu
berangsur sirna.
13/Maret/2012. # FHs. AKA-One.

Klik disini untuk melihat Video Kehampaan Pagi

Iklan

Renungan “Panjat Pinang” dan Analoginya.

Agustus 17, 2011

Rival panjat pinang kesakitan.

Panjat pinang yang biasanya menjadi pesta rakyat (acara hiburan rakyat) pada setiap bulan Agustus (peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia) ternyata punya makna sindiran bagi penguasa yang opotunis.Entah pesta rakyat ini sudah berlangsung mulai dari sejak kapan, kalau pesta ini sudah berlangsung pada jaman kerajaan dulu, itu berarti sindiran ditunjukan kepada Raja.

Panjat pinang, yang terbuat dari pohon pinang yang dibuat selicin mungkin, menggunakan pelumas,oli bekas atau apasaja, agar pohon pinang menjadi sangat licin. Dipuncuk pohon pinang yang sudah licin tersebut digantungkan berbagai hadiah, yang bisa diambil oleh siapa saja yang berhasil memanjat pohon pinang tsb.

Nah..nilai sindirannya terletak pada proses memanjat pinang ini, siapapun yang ingin meraih hadiah yang digantung di pohon pinang tersebut harus berjibaku dulu dengan licinnya pohon tersebut.

Dalam proses memanjat ini, kalau diamati sering terjadi kecurangan yang mungkin saja kecuringan ini terbangun dari aturan (sistem) memanjat atau sulitnya memanjat pohon pinang itu sendiri.

Pemanjat pertama kali biasanya tidak berhasil sampai di pucuk, tetapi pemanjat pertama kali ini justru menjadi pembersih pelumas bekas yang menempel pada pohon pinang, pemanjat berikutnya menjadi lebih mudah karena licin pohon sudah mulai berkurang.

Nah pemanjat yang “oportunis” biasanya selalu datang saat-saat terakhir, alasannya karena pohon sudah tidak terlalu licin, dan pemanjat lain sudah kelelahan, bahkan pemanjat oportunis tidak segan-segan membuat anggota tubuh rivalnya menjadi pijakan, seperti lutut,bahu bahkan kepala pemanjat lainnya, artinya pemanjat oportunis menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dan panjat pinang merupakan contoh permainan yang tidak mengandung nilai sportivitas.

Nah saat ini, analogi strategi panjat pinang ini diperlihatkan oleh “para mafia hukum di negeri ini”. Dalam kasus Nazaruddin misalnya, coba lihat KPK sebagai penegak hukum justru memperlakukan Nazaruddin dan pengacaranya, dengan cara-cara diluar koridor hukum.

Alasannya sangat jelas karena Nazaruddin dan pengacaranya (Pak OC.Kaligis) menuding oknum KPK,Chandra Hamzah dan koleganya terlibat sindikat korupsi bersama-sama dengan Anas Urbaningrum dan gerombolannya.

Padahal tudingan itu akan rontok dengan sendirinya dengan adanya “Azas praduga tak bersalah” (secara proporsional), jadi seharusnya KPK tidak perlu seperti “kebakaran jenggot” hingga mengisolasi Nazaruddin dengan cara-cara diluar hukum, tindakan KPK ini terlihat sangat arogan, kekanakan dan bahkan bertentangan dengan Hak Azasi Manusia.

Nah ibarat “memanjat pohon pinang” KPK sebagai institusi yang ikut memanjat pinang beradu muslihat dengan kubu Nazaruddin, dengan cara apapun bahkan dengan cara-cara yang tidak bisa diterima oleh paradigma hukum, padahal KPK adalah aparat penegak hukum.

KPK lupa bahwa ada “pemanjat pinang oportunis” yang sedang mengintai, menunggu kesempatan yang tepat untuk ikut terjun ke arena panjat pinang. Tentu saja KPK masih ingat beberapa waktu lalu, pihak mana yang menyuarakan KPK dibubarkan bukan?.. artinya KPK jangan “membabi buta” karena rakyat justru sedang mengamati setiap detil permainan ini.

Dan ingat ada “pemanjat pinang oportunis” yang siap menerkam KPK dan Nazaruddin sekaligus, karena dua “kepentingan” ini sangat tidak disukai oleh pihak tsb, dan pihak ini adalah para mafia hukum (mafia pajak dan gerombolannya,red).

Sebagai rakyat tentu saja, saya mendukung KPK secara institusi, untuk itu DPR (Legislatif) sebagaiknya mempercepat proses pergantingan pimpinan di institusi KPK, bagaimanapun terlihat ada indikasi oknum KPK saat ini yang bermain mata dengan “para pemanjat pinang oportunis”. ***

Kutipan Ramadhan: “Jangan biarkan kebencianmu kepada pihak lain, membuat kamu menjadi tidak berlaku adil”. Sumber hadits Rasulullah S.A.W.

SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMERDEKAAN INDONESIA 17 Agustus 1945 (2011) yang bertepatan dengan 17 Ramadhan 1432 H.  to home page..

Esensi Rahmatan Lil Alamin.

April 18, 2011

Para Pencari-Mu,Ya Allah.

“Rahmat bagi seluruh Alam”..ketika kita bicara tentang Rahmatan Lil Alamin, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk mencontoh perilaku “Sang Al-Qur’an Berjalan”, yaitu Baginda Rasulullah S.A.W.

Islam adalah rahmat (kebaikan) untuk seluruh alam. Ketika subtansi Islam sudah terpatri dalam sanubari seorang Muslim, maka sungguh perilakunya akan terlihat. Ketika dia sedang mencabut sehelai rumput, maka dia akan berdo’a “Ya Allah, rumput ini juga bernyawa, maka maafkan hamba-Mu ini, saya kembalikan nyawa rumput ini kepada-Mu ya Allah, karena sesungguhnya rumput ini juga bertasbih dan bertahmid kepada-Mu. Dan sesungguhnya rumput ini “ada” melainkan hanya karena kehendak-Mu.

Ketika dia akan menyembeli seekor hewan, dia juga akan berdoa mengikuti aturan yang sudah diajarkan Islam. Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam, dalam terminologi di atas marilah kita tarik ke subtansi yang lebih luas, bagaimana Islam memandang mahkluk lain sebagai sesama manusia di luar lingkaran Islam?.. bagaimana dengan subtansi “hablumminanaas?”.. sebagai sesama manusia apakah kita diberi “otoritas” oleh Allah SWT untuk membunuh, menganggap diri kita yang paling benar dari pihak lain?..

Sesungguhnya siapapun diantara kita yang mengaku dirinya atau kelompoknya yang paling benar, maka sesungguhnya dialah yang justru “yang tidak benar”. Hmm..maka neraka jahanamlah bagi orang-orang yang mati karena merasa, dia yang paling benar hingga relah membunuh, membombardir manusia-manusia lain disekelilingnya,yang belum tentu bersalah. Seperti yang dilakukan “penebar teror” di Masjid Mapolres Cirebon. Naudzu billah himinzalik..

Suatu ketika Rasulullah S.A.W pernah membesuk (mengujungi) seorang yang beragama Yahudi,yang sedang sakit. Padahal seorang Yahudi ini, selalu meludahi Rasulullah S.A.W ketika beliau melewati rumah “orang Yahudi ini” saat pergi atau pulang dari shalat berjamaah di masjid. Subhanallah.. beginilah tipikal “Rahmatan Lil Alamin” yang dicontohkan Rasulullah S.A.W kepada kita sebagai umatnya.

Ya Allah, miris rasanya melihat pelaku bom bunuh diri itu berjubah bahkan mengaku melakukan Jihad dan membunuhi orang-orang yang justru sedang berdiri dalam syaf yang siap berdiri, ruku’ dan syujud dihadapan-Mu ya Allah.

Hmm..kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para ulama terdahulu, seperti misalnya sebut saja Rabi’atul Al Adawiyah dll, tetapi kita harus bisa meletakkan para “ulama ini” pada proporsi yang sebenarnya, bahwa sesungguhnya mereka juga hanya berusaha memaknai Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W. Jadi kenapa kita harus membuat mereka menjadi Imam kita? panutan kita? bukankah Imam kita hanyalah Rasulullah S.A.W ?..wahai “saudara-saudaraku” kembalilah kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W,agar perbedaan pemahaman (idiologi) diantara kita bisa di minimalisir. Agar dinul Islam bisa tegak berdiri.

Rahmatan Lil Alamin, menjadi jaminan bahwa siapapun, agama apapun,ras apapun, suku apapun akan merasa aman dan damai hidup berdampingan dengan kita, dan disinilah esensi Islam yang sebenarnya. Walahu’alam bisyawab, bagi para ulama mohon saya diberi penjelasan jika sekiranya saya salah, terima kasih.  =>

Mau Dibawa Kemana Negeri Ini?..

April 14, 2011

Ibu Pertiwi Menggugat.

Temuan Komisi Yudisial dalam kasus Antasari Azhar, terdapat rekayasa. Memberi dampak yang sangat buruk bagi penegakan hukum di negeri ini. Kita semua jadi teringat dengan “nyanyian merdu Mr talent” Gayus Tambunan beberapa waktu lalu, bahwa kasusnya berhubungan dengan kasusnya Antasari Azhar. Hmm..kalau nyayian Gayus ini benar, ini berarti kita semua telah masuk dalam pusaran lingkaran setan para mafia, pertanyaan selanjutnya adalah  “mau dibawa kemana negeri ini?”..

Pertanyaan ini ditujukan kepada Pemimpin Negara, sebab tidak ada jalan lain untuk membersihkan nama dan partai anda, adalah dengan mengusut kasus ini sampai tuntas dan pengabulan PKnya Pak Antasari Azhar menjadi langkah awal yang baik.

“Jangan biarkan siapapun, melegalkan kejahatan dengan berlindung dibalik konstitusi” kita semua harus sadar bahwa kejahatan di negeri ini, sudah masuk pada tahap sangat menghawatirkan, sudah dilakukan secara berjamaah (sistemik) dan ironisnya pelaku-pelakunya bisa berlindung ‘atas nama konstitusi’ Inna lillahi wa’inna’ ilaihi raji’un.. ==>

Makna “Harga Diri” for suspend FIFA untuk PSSI.

Maret 1, 2011

Bravo FIFA.

Beginilah jadinya kalau “harga diri tidak pada tempatnya” dibawa-bawa keranah profesional  dan sportivitas. Ketika harga diri (yang tidak proporsional)menjadi acuan, semua masukan baik akan terasa sumir dalam pendengaran.

Seperti polemik PSSI misalnya, ketika sebagian besar orang mengiginkan perubahan kepengurusan di tubuh PSSI, dengan gagah sang ketua dan beberapa pengurusnya mencoba bertahan hanya dengan alasan harga diri. Sebagai seorang yang juga berdarah Bugis, saya menjadi prihatin ketika “Prinsip Hidup” para leluhur ini disalah artikan, di gunakan untuk hal yang justru merugikan diri sendiri, Organisasi yang dipimpin dan bahkan akan merugikan Negara.

Harga diri yang dipahami oleh para leluhur adalah jika berkenaan dengan hal yang benar-benar prinsip. Seperti tindakan yang di ambil oleh Sultan Hasanuddin, ketika berhadapan dengan penjajah Belanda misalnya. Sultan Hasanuddin mengambil sikap tidak akan bergeser setapakpun ketika harga diri bangsa dan negara di cabik-cabik. Dan sikap ini beliau tunjukan saat mengusir saudaranya sendiri (Aru Palaka) yang membelot membantu pihak penjajah.

Pertanyaanya sekarang adalah, apakah harga diri yang di pahami oleh Pak Nurdin Halid sama dengan yang di pahami oleh Sultan Hasanuddin? Hati-hati bicara harga diri, karena Aru Palaka juga sangat piayawai bicara harga diri. (more…)